Mengayuh Sepeda Hidup


Baiklah kita mulai dari belajar bersepeda, roda dua. Ketika mulai oleng, bukan untuk menjejak tanah kita belajar, melainkan apa yang kita lakukan? Mengayuh. Terus saja mengayuh. Maka kita akan lupa dengan oleng itu, lalu kita maju. Atau ketika mengendarai motor di jalanan berbatu yang juga membuat oleng, apa yang kita lakukan? Menarik gas. Tetap saja. Bukan berhenti atau memperlambat.
      Maka begitulah hidup, kawan. Kerikil masalah akan selalu ada. Kadang membuat kita oleng dan hampir terjatuh. Tapi hidup harus tetap berjalan, sampai tiba saatnya ruh keluar dengan senyum kemenangan. Jangan berhenti.
      Sebenarnya maksud tulisan ini bukan di situ sih. Melainkan pada apa yang menjadi fokus kita. Kalau dalam mengejar tujuan kita menemui masalah, selesaikan, tapi jangan terfokus pada masalah itu. Tetap fokus pada tujuan kita  di depan. Tetap mengayuh dan menarik gas untuk maju, bukan berusaha bertahan stabil menghadapi batu-batu yang membuat oleng itu.
      Kita ambil saja contoh di kelompok/organisasi. Kelompok/organisasi yang produktif biasanya jarang disibukkan oleh masalah-masalah yang sebenarnya (maaf) remeh, tidak signifikan terhadap tujuan yang ingin dicapai. Misalnya perasaan sakit hati, tidak nyaman dengan anggota lain, dsb. Kenapa?
     Karena mereka telah disibukkan untuk bergerak. Maka tidak ada waktu lagi untuk mengurus hal remeh-temeh.
    Dalam hidup, kita (harus) punya tujuan. Atau target dan keinginan-keinginan. Nah, kalau pikiran dan raga kita disibukkan oleh kerja-kerja penting dan relevan demi mencapai tujuan itu, maka kita tidak akan repot memikirkan masalah-masalah yang mungkin saja tampak besar, namun sebenarnya tidak benar-benar menghalangi tujuan besar kita. Kalau ada ketakutan tidak bisa mencapai tujuan, kejarlah tujuan itu lebih keras dan sungguh-sungguh, tak perlu kita pikirkan ketakutan itu. Jangan fokus supaya tidak oleng, kayuh saja, tarik saja gasnya! Yang penting maju dan rintangan ‘jalan berbatu’ itu usai.
      Yang kita perlukan adalah tetap fokus pada tujuan dan senantiasa bergerak. Sehingga secara perlahan ‘penyakit-penyakit’ akan sendirinya menjauh. Karena diam itu mematikan ternyata.

0 comments: (+add yours?)

Post a Comment