Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Mengapa Berani Memulai

0 comments

Ketika kita menengok ke belakang, mengapa kita sukses saat ini! Mungkin kita akan berpikir juga, mengapa kita bisa sukses? Kapan kita memulainya, hingga kita sukses!

Ketika kita sudah berkeluarga, sering kita bernostalgia! Kenapa keluarga kita sebahagia ini! Kenapa kita seperti ini! Ya…kita bisa lanjut, dulu kenapa ya kita berani memulainya? Modal apa yang kita punya?

Dua contoh tersebut dapat kita gunakan untuk kita merefleksi diri! Benarkah kita ini pemberani? Benarkah kita ini seorang “Champion”? Benarkah kita ini seorang pemimpin? Benarkah kita ini seorang “Teladan”? Ataukah kita ini seorang “Inspirator”? Atau kita ini hanya seorang “Pecundang”?

Contoh lain: Kevin di film Home Alone I, Kevin berani menyepak mesin cuci karena merasa itu jalan satu-satunya membuktikan mesin cuci bukanlah monster. Demikian pula sang kakek yang berhasil menemui anak dan cucunya, ia berani karena memiliki keinginan kuat, setelah diajari oleh Kevin untuk Berani Mencoba!

Semua keadaan ini memang tidak terlepas dari apa yang pernah kita mulai, dari mana kita memulai, kapan kita memulai, siapa partner atau inspirtator ini semua, mengapa kita berani memulai dan bagaimana dulu kita memulai!

Komitmen!
Keadaan ini ada karena permulaan masa lalu yang sementara waktu sering kita lupakan, akibatnya kita juga lupa sebenarnya kita ini siapa? Bagaimana keadaan kita waktu itu?

Contoh 1: Ada seorang pemuda yang tanpa modal materi berani menikahi seorang gadis anak orang berada! Ia hanya berbekal komitmen mereka berdua, bukan cinta membara anak muda, tetapi banyak pasangan yang seperti ini dapat mempertahankan perkawinannya selama 24 tahun, meskipun mungkin dalam keadaan/keutuhan keluarga yang compang-camping! Namun komitmen inilah yang mengikat mereka menjadi sekuat ini!

Contoh 2: Ada sepasang kekasih dengan modal saling mencintai (bahkan melebihi dosis), modal ekonomi berlimpah, modal dukungan kedua orang tua dan saudara, modal jaminan masa depan! Tetapi, ternyata modal luar biasa itu tak cukup mempertahankan mahligai keluarga selama lebih dari 10 tahun! Bahkan banyak yang telah rontoh hanya dalam hitungan tahun. Lihat para artis dan anak para konglomerat, betapa demonstratifnya cinta mereka seperti Romi dan Yuli dengan dana keuangan tak terhitung…tetapi hancur juga! Mengapa!

Contoh 1 dan contoh 2 hanya dibedakan oleh satu hal, yaitu komitmen. Komitmen menyebabkan pasangan itu rela menderita, tidak mementingkan ego tetapi mementingkan tujuan mereka berkeluarga. Jika tujuan mereka memperoleh keturunan, maka ia akan memperjuangkan keturunan mereka!

Memulai!
Bagaimana jika kita tarik pada perikehidupan siswa atau mahasiswa! Apakah mereka memiliki komitmen belajar? Apakah benar mereka belajar/kuliah berdasar komitmen membangun masa depannya? Menguasai ilmu? Ataukah hanya sekedar nilai, lulus, melamar pekerjaan, bekerja, menikah, memiliki anak….wah datar sekali! Mereka hidup tanpa dinamika, ia hanyalah manusia yang mengikuti arus air mengalir, ia tak bisa menciptakan hentakan-hentakan, momentum-momentum yang menjadikan hidup adalah dinamis dan hidup menjadi lebih hidup dan bervariasi!

Contoh 3: Adakah seorang perempuan atau lelaki berani menyatakan cinta tanpa sebab? Tidak bukan? Paling tidak selama masa penjajagan dan bergaul, tentu terdapat signal-signal atau tanda-tanda, atau karena geer, atau terlalu pede, atau dijebak, atau dipermainkan, atau dipancing…yang jelas ada sesuatu permulaan yang membuat orang yakin untuk melangkah!
Contoh 4: Siswa/mahasiswa memulai belajar? Apakah dari komitmen ataukah dari stimuli teman, orang tua, cita-cita, atau tersulut oleh sebuah dealisme….ya yang jelas pasti ada permulaan dan tidak mungkin seseorang memulai tanpa sebab.

Permulaan
Jangan salahkan siapa pun, jika terjadi proses memulai, karena ada permulaan dan permulaan terpantik oleh salah satu sebab. Mungkin tumbuhn ya keyakinan, ditemukannya sebuah jalan, munculnya keinginan berdasar pengalan, mungkin karena ada inspirasi sukses seseorang, mungkin kebuah need . Dalam belajar munculnya N ach atau Need for Achievment, kebutuhan akan prestasi dan muncunya harga diri, munculnya kebutuhan rasa aman, atau mungkin yang 

lebih tinggi keinginanan mewujudkan siapa dirinya!
Sebaliknya, mengapa anak tiba-tiba menjadi malas, tiba-tiba menghentikan proses belajar. Maka sebaliknya, mungkin hilangnya inspirasi belajar, hilangnya kebutuhan berprestasi, hilangnya harapan, hilangnya daya dorong, dan sebagainya!

Keyakinan
Keyakinan memiliki peran penting menjadi pemicu dan pemacu atau pembunuh sekaligus pengakhir prosesesi sesuatu. Pelajar belajar karena terinsp[irasi oelh gurunya yang pandai mengidentifikasi sebuah kesuksesan. Keyakinan bahwa ia mampu meraihnya, mampu menjadi sesuatu. Sebaliknya jika inspirasi dan keyakinan diri hilang, maka hilang pula permulaan yang telah mereka mulai. Dan tidak mudah memulai kembali dari start yang kemudian berhenti!.

Tidak mudah menjadi Susno Duaji yang berani menjadi pemula pembukan kasus korupsi, meski pun ia menjadi korban!

Tidak mudah menjadi Columbus yang memulai pertamakali mengelilingi bumi dengan melawan arah! Tidak mudah menjadi perintis, tidak mudah menjadi pelopor, tidak mudah menjadi pemula!

Tidak mudah pemuda berani menyatakan cintanya! Kalau ia tidak memiliki keyakinan yang muncul dari stimuli, pancingan, atau sinyal-sinyal dari sang wanita bakal menerima! Keyakinan adalah kunci!

Maka, jangan salahkan mereka, paling tidak mereka telah memulai! Mengapa ia memulai, karena mereka memiliki keberanian!

Keberanian
Tidak banyak kita temui manusia pemberani. Karena kebanyakan adalah penumpang-penumpang gelap kesuksesan! Berapa orang yang berani menjadi calon Bupati? Yang banyak adalah calon wakil bupati! Berapa banyak calon Presiden, yang banyak bakal calon wakil presiden….(mungkin modalnya kecil).

Berani bercita-cita, berani mengambil resiko, berani mencoba, berani gagal, berani malu, berani menderita, berani mendapat malu, berani………………..memulai!

Mari kita pupuk keberan ian, minimal melatih keberanian pada diri sendiri! Apakah Anda takut, itu wajar! Karena kita adalah manusia normal yang memiliki rasa takut, tetapi PERSOALANNYA BUKAN RASA TAKUT, TETAPI BAGAIMANA MENGALAHKAN RASA TAKUT!

Cobalah, paling-paling Cuma gagal…………………………! dan ini resiko keberanian berbuat!

Jadi, mengapa berani memulai…………………………….mungkin….karena sudah tidak takut, memiliki keyakinan, mendapat tanda-tanda keberhasilan, siap gagal, siap malu, siap dipermalukan oleh anak kecil, siap sukses,….atau hanya mencoba-coba……………….masih banyak alasan mengapa kita memulai…………………..karena kita memulai!

Nasihat dari Angin

0 comments

Alkisah, ada cerita seekor monyet sedang nangkring di pucuk pohon kelapa. Dia nggak sadar lagi diintip sama tiga angin gede, yaitu
- Angin Topan,
- Tornado dan
- Angin Bahorok.

Tiga angin itu rupanya pada ngomongin, siapa yang bisa paling cepet jatuhin si monyet dari pohon kelapa.

Angin Topan bilang, dia cuma perlu waktu 45 detik.
Angin Tornado nggak mau kalah, 30 detik.
Angin Bahorok senyum ngeledek, 15 detik juga jatuh tuh monyet.

Akhirnya satu persatu ketiga angin itu maju. Angin TOPAN duluan, dia tiup sekenceng-kencengnya, Wuuusss… Merasa ada angin gede datang, si monyet langsung megang batang pohon kelapa. Dia pegang sekuat-kuatnya. Beberapa menit lewat, nggak jatuh-jatuh tuh monyet. Angin Topan pun nyerah.

Giliran Angin TORNADO. Wuuusss… Wuuusss…
Dia tiup sekenceng-kencengnya. Ngga jatuh juga tuh monyet.
Angin Tornado nyerah.

Terakhir, Angin BAHOROK. Lebih kenceng lagi dia tiup. Wuuuss… Wuuuss… Wuuuss… Si monyet malah makin kenceng pegangannya. Nggak jatuh-jatuh. Ketiga angin gede itu akhirnya ngakuin, si monyet memang jagoan. Tangguh. Daya tahannya luar biasa.

Ngga lama, datang angin Sepoi-Sepoi. Dia bilang mau ikutan jatuhin si monyet. Diketawain sama tiga angin itu. Yang gede aja nggak bisa, apalagi yang kecil.

Nggak banyak omong, Angin SEPOI-SEPOI langsung niup ubun-ubun si monyet. Psssss… Enak banget. Adem… Seger… Riyep-riyep matanya si monyet. Nggak lama ketiduran dia. Lepas pegangannya. Jatuh deh tuh si monyet.

Dari kisah diatas yang bisa kita ambil adalah:

Boleh jadi ketika kita Diuji dengan KESUSAHAN… Dicoba dengan Penderitaan… Didera Malapetaka… Kita kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya…

Tapi jika kita diuji dengan KENIKMATAN… KESENANGAN… KELIMPAHAN… Biasanya kita mudah terlena dan terlupa, dan saat itulah kita mudah jatuh dan menjauh dari sang Pencipta..! Berhati-hatilah dan berjaga2lah..!

Pengaruh Warna dalam Ruang Terhadap Kondisi Fisik dan Psikologis Manusia

2 comments

Keberadaan warna di alam telah terbukti memberikan pengaruh pada semua makhluk hidup yang ada di dalamnya. Sebagai contoh, warna merah dan biru adalah dua warna yang paling optimal dalam mempercepat laju fotosintesis pada tumbuhan. Pada hewan, warna membantu membedakan bahan makanan mentah atau matang (buah matang berwarna merah sementara yang masih mentah berwarna hijau).
Secara umum, warna dapat didefinisikan sebagai suatu spektrum yang terdapat di dalam cahaya, di mana identitas dari warna ditentukan oleh panjang gelombang cahaya tersebut. Isaac Newton telah berhasil mendemonstrasikan pergerakan warna dalam bentuk gelombang melalui percobaannya menggunakan sebuah prisma kaca. Saat ia menyinari sebuah prisma kaca dengan cahaya putih, panjang gelombang yang berbeda dibiaskan dengan sudut yang berbeda. Hal ini memungkinkan Newton melihat warna pelangi (spektrum). Ketika cahaya menghantam sebuah objek berwarna, objek tersebut hanya akan menyerap panjang gelombang yang sesuai dengan struktur atomiknya sendiri, kemudian memantulkan gelombang lain yang tidak sesuai. Pantulan inilah yang kemudian ditangkap oleh mata. Dalam retina, gelombang warna akan diubah menjadi sebuah impuls elektrik yang dikirimkan ke hipotalamus, bagian pada otak yang mengatur kerja hormon dan sistem endokrin. Setelah melalui proses ini, tubuh kita akan beradaptasi dengan gelombang warna tersebut.
Selain berpengaruh pada reaksi biologis makhluk hidup, warna juga memberi berbagai pengaruh pada kondisi psikologis manusia. Menurut Hartini (2007), warna memiliki berbagai karakteristik energi yang berbeda – beda apabila diaplikasikan pada tubuh. Pembelajaran mengenai pengaruh warna terhadap perilaku, emosi dan fisik manusia ini dikenal dengan sebutan psikologi warna.
 Psikologi warna banyak diterapkan dalam perancangan interior suatu ruangan. Dalam bukunya yang berjudul Color in Interior Design, John Pile mengatakan bahwa penggunaan warna adalah fokus utama dalam desain interior dan merupakan suatu faktor penting penentu kesuksesan suatu proyek (1997 : 1).  Pemilihan warna yang salah dalam suatu ruangan, dapat menimbulkan perasaan yang kurang nyaman atau bahkan membawa dampak buruk bagi kondisi psikologis seseorang, khususnya bagi orang – orang dengan kebutuhan khusus, seperti  penderita cacat mental atau autisme.  Bagi para penderita autisme, pemilihan warna dalam ruangan harus diperhatikan secara jeli. Pemilihan warna dalam ruang ini akan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan mereka, seperti kebutuhan akan rasa aman, nyaman, dan hangat. Oleh karena itu, sangat penting untuk memilih warna – warna pastel yang lembut dengan intensitas rendah. Warna – warna gelap dalam sebuah ruangan, akan menimbulkan perasaan takut dan bahkan depresi.
Setiap warna memiliki potensi untuk memberikan efek yang positif maupun negatif pada seseorang. Penggunaan warna berkaitan dengan kondisi psikologis seseorang akan mempengaruhi tubuh, pikiran, emosi dan keseimbangan dari ketiganya dalam diri manusia. Berikut ini adalah beberapa contoh pengaruh warna terhadap manusia :
1.      Warna merah merupakan warna yang cukup dominan. Penggunaan warna ini pada suatu objek seringkali membuat objek tersebut tampak lebih dekat dari sebenarnya, sehingga mata kita cenderung lebih cepat mengidentifikasi warna merah dalam suatu ruangan. Warna merah memiliki pengaruh besar pada mood pria, karena warna ini menciptakan reaksi yang emosional. Selain itu, warna merah juga banyak mempengaruhi manusia secara fisik seperti meningkatkan tekanan darah, denyut nadi, dan laju pernafasan, warna ini juga sering dimanfaatkan sebagai terapi pengobatan[1], contohnya dalam pengobatan penyakit anemia, tekanan darah rendah atau penyakit kulit . Walaupun dapat memberikan suasana hangat dalam ruangan, warna ini cenderung meningkatkan agresivitas seseorang.
2.      Warna biru memberikan efek yang cenderung menenangkan. Warna ini seringkali diasosiasikan dengan warna langit atau lautan, juga dianggap sebagai warna favorit dunia karena efeknya yang membawa perasaan damai. Warna biru pekat akan menstimulasi pemikiran yang jernih, sementara warna biru muda akan membantu meningkatkan konsentrasi. Warna ini sangat baik dipakai untuk mengatasi sakit tenggorokan, asma ataupun migren.
Di sisi lain, penggunaan warna biru pada ruangan secara berlebihan dapat menimbulkan kesan dingin dan tidak bersahabat, bahkan terkadang membawa perasaan sedih atau depresi.
3.      Warna kuning menimbulkan perasaan ceria dan optimis. Warna ini banyak mempengaruhi manusia secara mental dan emosional. Penggunaan warna ini secara tepat dalam ruangan, menimbulkan kesan bersahabat dan seringkali membantu meningkatkan kreativitas seseorang. Warna ini sangat cocok dipakai untuk menetralkan rasa gugup, karena cenderung meningkatkan rasa percaya diri seseorang. Walaupun demikian, penggunaan warna kuning hendaknya dikombinasikan dengan warna – warna lain, karena memiliki kecenderungan untuk memancing terjadinya perdebatan.
4.       Warna hijau membawa kesan yang menyegarkan karena diasosiasikan dengan alam dan tumbuhan. Warna hijau memberikan rasa aman, juga keseimbangan dan harmoni. Warna ini cocok digunakan dalam ruangan peristirahatan karena membawa perasaan damai dan ketenangan. selain itu, warna ini juga dipercaya dapat memperbaiki pengelihatan seseorang. Namun demikian, terlalu banyak warna hijau dalam suatu ruangan dapat menimbulkan kebosanan.
5.      Warna oranye merupakan hasil pencampuran warna merah dan kuning. Dengan adanya kombinasi dua warna tersebut, warna oranye mempengaruhi manusia baik secara fisik maupun mental. Warna oranye dapat meningkatkan nafsu makan dan memberikan kenyamanan, sehingga sangat cocok digunakan di ruang makan atau ruang keluarga. Selain itu, warna ini membawa perasaan hangat dan menyenangkan. Dalam terapi pengobatan, warna oranye dipakai untuk mengatasi kelainan ginjal atau paru – paru, juga mengobati bronkhitis. Dampak negatif dari penggunaan warna ini secara berlebihan adalah menyebabkan berkurangnya tingkat keseriusan dalam belajar atau bekerja.
6.      Warna hitam memberikan kesan yang glamor dan elegan. Selain itu, warna ini juga menciptakan suasana yang cenderung serius dalam suatu ruangan. Warna hitam juga sering dipakai untuk menekan nafsu makan yang berlebihan, misalnya dengan cara melapisi meja dengan taplak berwarna hitam. Dalam konotasi yang negatif, warna ini menimbulkan ketakutan akan gelap atau perasaan tidak aman.
7.      Warna putih melambangkan kemurnian atau kesucian. Warna ini banyak digunakan di rumah sakit karena memberikan kesan higienis dan steril. Secara visual, penggunaan warna ini pada suatu ruangan akan memberikan ilusi bahwa ruangan tersebut lebih tinggi daripada yang sebenarnya. Penggunaan warna putih secara berlebihan cenderung memberi kesan tidak ramah.
8.      Warna merah muda merupakan hasil pencampuran warna merah dan putih. Warna ini melambangkan sifat yang feminim dan memberikan kesan santai. Namun faktanya, warna ini juga seringkali membuat orang merasa lesu dan kurang bersemangat. Dampak negatif dari warna merah muda ini sering dimanfaatkan dalam bidang olahraga. Dalam sebuah pertandingan, seringkali warna merah muda digunakan dalam ruang ganti lawan dengan tujuan untuk menekan semangat dari tim lawan.
9.      Warna cokelat terdiri dari warna merah, kuning dan hitam. Sama seperti warna hitam, cokelat juga menimbulkan kesan yang serius, tetapi warna cokelat lebih menonjolkan sisi lembut dan kehangatan.
10.  Warna ungu memberikan kesan mewah dan seringkali dikaitkan dengan kerohanian. Warna ini juga dapat mendorong manusia untuk melakukan perenungan atau meditasi. Selain itu, warna ini juga sering digunakan untuk meningkatkan rasa percaya diri seseorang dan mengurangi rasa putus asa.
Selain warna – warna spesifik (hue)[2] yang telah disebutkan di atas, dimensi warna yang lain seperti intensitas ( chroma)[3], value[4],dan temperatur warna juga turut berperan dalam mempengaruhi kondisi psikologis manusia. Komposisi warna dengan value yang kontras akan meningkatkan ketelitian dan objektivitas. Sementara komposisi warna – warna gelap akan menimbulkan kesan yang misterius atau rasa takut. Warna – warna dengan intensitas yang tinggi terlihat menarik dan memicu terjadinya aktivitas.
Selain terbagi atas warna primer, sekunder dan tersier, warna juga digolongkan sesuai dengan ‘temperaturnya’. Komposisi dari warna yang bersifat dingin (cool colors) seperti biru, menimbulkan perasaan tenang dan damai, tetapi juga dapat menimbulkan kesedihan. Sementara itu, komposisi warna – warna hangat (warm colors) seperti merah atau oranye menimbulkan perasaan nyaman dan gembira.
    “Berdasarkan pengamatan yang cukup kuat, ditemukan bahwa pembagian spektrum ke warna – warna hangat maupun dingin memiliki makna yang sangat jelas dan sederhana dengan referensi kepribadian manusia.Memang, meskipun simpulan yang didapat sebagian besar bersifat empiris, warna hangat dan dingin memiliki kualitas yang dinamis, kehangatan menandakan interaksi dengan lingkungan, kesejukan menandakan penarikan diri ke dalam pemikiran.”(Birren, 1955)
T
he rather strong observation is to be made that division of the spectrum into warm and cool colors holds very evident and simple meaning with reference to human personality. Indeed, though the conclusion may be largely empirical, warmth and coolness in color are dynamic qualities, warmth signifying contact with environment, coolness signifying withdrawal into oneself of thought or deliberation.
     Walaupun manusia cenderung merespon warna dengan cara yang sama, namun efek psikologis yang dialami setiap orang karena pengaruh warna tidak mutlak sama persis.
      “ Penjelasan mengenai fenomena psikologis dan fisik tidak selalu mudah – dan memang tidak penting. Dalam diri manusia, terdapat banyak hal aneh dan misteri yang tidak dapat dijelaskan  berkaitan dengan warna.” (Birren, 2010 : 199).
(Explanation on psychological and physical phenomena are not always easy – and indeed unnecessary. There are in man many strange and inexplicable mysteries regarding color) Perbedaan respon yang diberikan manusia ini disebabkan karena berbagai faktor, seperti beragamnya tingkat pengelihatan yang dimiliki setiap orang. Selain itu, latar belakang budaya yang berbeda juga seringkali menjadi penyebab keberagaman respon manusia. Kebudayaan seringkali mempengaruhi persepsi seseorang terhadap warna – warna tertentu. Contohnya, warna putih yang sering diasosiasikan dengan kesucian, dalam kebudayaan Barat banyak digunakan dalam upacara pernikahan. Sementara itu, dalam kebudayaan di Asia, warna lambang kesucian ini digunakan sebagai simbol kematian. Selain faktor – faktor tersebut, pengalaman seseorang juga menjadi aspek pertimbangan penting dalam pemilihan warna ruangan. Beberapa warna mungkin diasosiasikan dengan memori atau pengalaman di masa lalu (misalnya, warna hijau mengingatkan seseorang tentang kampung halamannya).      
Daftar Pustaka
•         Birren, Faber. 2010. Color Psychology and Color Theraphy : A Factual Study of the Influence of Color on Human Life .Whitefish. Kessinger Publishing L.L.C.
•         Pile, John.1997. Color in Interior Design. McGraw-Hill Profesional.
•         ‘Terapi Warna untuk Penyembuhan’, Conectique. http://www.conectique.com/tips_solution/health/tips/article.
•         Rohrer, Ken (2011) ‘Color Symbolism and Culture’, Incredible Art Departmen.
http://www.princetonol.com/groups/iad/lessons/middle/color2.htm
•         Wright, Angela (2008) ‘Psychological Properties of Colours’, Colour Affects.
www.colour-affects.co.uk/psyprop.htm

[1] Faber Birren, Color Psychology and Color Theraphy : A Factual Study of the Influence of Color on Human Life (Whitefish : Kessinger Publishing L.L.C, 2010),hal.35-36.

[2] Dimensi dasar dari warna, yang ditampilkan tanpa adanya pencampuran warna hitam, putih, atau abu – abu.

[3] Ukuran kemurnian atau kecerahan suatu warna.

[4] Tingkat kegelapan atau keterangan suatu warna. Biasanya diperoleh dengan cara menambahkan warna hitam ataupun putih. Contohnya warna merah muda yang merupakan value  terang dari warna merah.

Ketidakpastian dan Peluang

0 comments

Hampir semua dari kita pasti lebih suka terhadap hal yang pasti-pasti karena dengan demikian kita akan merasa lebih aman. Perasaan “aman” itu sendiri merupakan kebutuhan dasar kedua.
Menurut ahli motivasi Maslow kebutuhan dasar pertama atau kebutuhan paling mendasar adalah kebutuhan bukan hanya untuk hidup, tetapi juga kebutuhan untuk bisa survive: makan, air, udara, dan seks. Seks merupakan kebutuhan untuk meneruskan kehidupan, bukan melulu penyaluran nafsu badaniah! Jadi, keinginan untuk mendapatkan hal-hal yang pasti-pasti juga merupakan sesuatu yang menjadi kebutuhan utama manusia dalam kehidupan.

Dengan mempunyai keinginan tersebut sebetulnya kita berhadapan dengan paradoks karena kehidupan kita sehari-hari sendiri sudah penuh ketidak-pastian. Setiap kali bangun pagi, kita sudah menghadapi dunia yang penuh ketidak-pastian. Kita memang sudah membuat berbagai perencanaan, tetapi dapatkah (atau: beranikah) kita memastikan bahwa apa yang sudah terencana tersebut pasti 100 peren terlaksana sesuai dengan rencana yang sudah dibuat?

Mungkin komputer kita tiba-tiba disusupi virus. Atau anak kita yang segar-bugar ketahuan menderita sakit. Cek yang kita terima ternyata dananya kosong. Harga saham yang diperkirakan naik, eh, kok ya malah jadi turun. Rasa optimisme yang sudah kita bangun karena kita sudah demikian teliti menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan, mungkin saja tiba-tiba menjadi berantakan karena ada hal di luar dugaan yang menghantamnya. Apakah ketidak-pastian semacam itu membuat kita menjadi takut menghadapi masa depan?

Sebaiknya hal yang dapat menimbulkan pesimisme semacam itu dilihat dari sudut pandang lain: adanya ketidak-pastian semacam itu sebetulnya malah merupakan kemungkinan terjadinya berbagai hal lain. Bila ada kepastian, berarti hanya ada satu kemungkinan saja yang pasti terjadi dan pasti tidak akan ada kemungkinan lain yang akan terjadi. Sedang kalau tidak jelas (atau tidak pasti) apa yang akan terjadi, berarti yang mungkin akan terjadi ada banyak hal. Betul, kan?

Peluang
Memang, untuk mereka yang jeli dan dapat mengendalikan keadaan, kondisi ketidakpastian malah akan menimbulkan kemungkinan-kemungkinan lain yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dari kondisi ketidakpastian itu akan dapat dicari berbagai peluang untuk diwujudkan menjadi hal-hal yang memuaskan.
Banyak orang yang beranggapan bahwa peluang yang baik hanyalah dimiliki oleh mereka yang berada “di depan” atau yang pertama kali mengenal peluang tersebut. Kita cenderung percaya bahwa mereka yang sudah melakukan suatu hal lebih dulu akan lebih beruntung disbanding dengan yang “datang belakangan” dan melakukan hal sama.
Harus diingat bahwa Stephen Covey, pakar yang mengemukakan tentang tujuh kebiasaan manusia yang amat efektif, memperkenalkan kita kepada “ciptaan pertama” dan “ciptaan kedua”.

Ciptaan pertama adalah bentuk ketika suatu hal diciptakan atau dibentuk pertama kali, sedangkan ciptaan kedua adalah ketika hal itu dibentuk untuk waktu berikutnya. Jelas yang terakhir merupakan perbaikan disbanding dengan ciptaan pertama karena pasti sudah ada perbaikan sebagai hasil pengamatan pada kelemahan ciptaan pertama ditambah hal-hal yang diperkirakan merupakan perbaikan dari bentuk sebelumnya.

Contoh yang jelas adalah perkembangan bentuk dan fitur peralatan (TV, komputer, HP dan semacamnya), setiap kali selalu lebih baik disbanding dengan sebelumnya.
Mengapa bisa demikian, tentunya model-model terakhir dibuat setelah memperhatikan kelemahan tipe sebelumnya dan berdasarkan pengalaman memakai produk tipe tersebut kemudian didapatkan hal-hal yang harus diperbaiki, yang diterapkan pada tipe atau model keluaran belakangan.

Jadi, kita tidak perlu berkecil hati bila menjadi orang kesekian yang memasuki suatu bidang. Walaupun ada pepatah: “Burung pertama akan mudah mendapat cacing” (the ealy bird cathes the worm), tetapi ada suatu lembaga pendidikan yang pernah mengiklankan diri sebagai “We are not the first, but the best !”

Peluang adalah suatu “situasi”. Setiap kali suatu situasi akan dapat berubah. Suatu hal yang yang pada satu hari muncul sebagai peluang, di hari berikutnya mungkin sudah bukan merupakan peluang lagi. Di dunia yang mempunyai banyak perubahan dan banyak kemungkinan ini, ada berbagai macam peluang yang muncul. Kita memang harus jeli untuk melihatnya, kemudian menangkap dan memprosesnya.

Yang menjadi masalah memang bagaimana kita dapat “melihat” dan menangkap peluang yang “lewat” tersebut. Hal itu membutuhkan proses belajar, sampai kita dapat “mengendus” peluang mana yang sesuai dengan kemampuan kita untuk dapat memproses selanjutnya, sehingga peluang tersebut menjadi berdaya-guna. Layaknya semua proses belajar, pasti ada tahapan-tahapan ketika kita jatuh-bangun dulu sebelum akhirnya menjadi mahir. Seperti pernah disinggung di rubrik ini, proses belajar yang baik adalah seperti proses anak belajar berjalan.

Walaupun awalnya selalu jatuh (samakanlah dengan pengalaman hidup ketika berkali-kali mengalami kegagalan), tetapi si anak tetap saja “ngotot” untuk bangkit lagi sampai akhirnya dapat berjalan di atas kakinya sendiri.
Hal lain yang perlu diperhatikan kalau kita menghadapi suatu peluang adalah melihat semua hal di sekeliling peluang tersebut secara menyeluruh. Banyak orang yang main tubruk saja ketika melihat suatu peluang di depannya, tanpa memperhatikan hal-hal yang mungkin menyebabkan sebaiknya kita tidak usah mengambil peluang tersebut.

Setelah satu peluang kita “tangkap”, sebelum membuahkan suatu hasil, masih saja kita harus menerapkan kedisiplinan, kejelasan arah, ketekunan dan strategi-strategi tertentu. Tidak ada peluang yang langsung membuahkan hasil begitu kita tangkap. Masih harus ada proses panjang untuk sampai ke tahapan itu.

No Where atau Now Here
Yang menarik adalah membandingkan pandangan orang yang pesimis dan yang optimis. Yang pesimis mengatakan OPPORTUNITY IS NO WHERE – tidak ada peluang di mana pun. Sedang orang optimis selalu mengatakan OPPORTUNITY IS NOW HERE, peluang itu saat ini ada di sini. No where (tidak ada di mana pun) dan now here (sekarang ada di sini) jumlah dan urutan hurufnya sama persis. Hanya saja letak huruf “w” yang menyatu dengan kata yang di depan atau yang menyatu dengan kata yang di belakanglah yang membedakan artinya.

Itu jelas berarti bahwa sudut pandang seseorang lah yang memastikan bahwa peluang, atau kesempatan, itu tidak ada di mana-mana, atau memang ada di sini. Toh bentuk peluangnya sama, tempat dan situasi yang dihadapi juga sama – hanya yang cukup jeli dan punya pengharapan (= optimis) dapat mengenalinya sebagai peluang yang harus ditangkap dan digarap, sedang yang lain tidak melihatnya sama sekali.

Begitu peluang sudah berada di dalam dekapan kita, kita tetap saja harus berusaha. Di atas sudah disinggung mengenai kedisiplinan, kejelasan arah, ketekunan dan strategi-strategi untuk mengolahnya menjadi suatu hasil yang berdaya-guna. Untuk membicarakan hal itu ada cerita yang menarik. Di suatu kerajaan, seorang raja berpikir: “Aku ini ‘kan raja. Masa iya sih, tak dapat mengusahakan cara yang paling mudah untuk mendapatkan hasil dengan segera?”

Dikumpulkannya semua kaum cerdik-pandai dari seluruh pelosok negeri untuk menemukan cara seperti yang dipikirkannya. Setelah tenggat waktu yang ditentukan, mereka menghadap dengan membawa buku setebal 100 halaman, berisi jawaban atas kemauan baginda. Raja menerima buku tersebut, tetapi tidak puas. “Gila apa, masa yang namanya cara yang paling mudah harus dicapai dengan membaca dan menghapal isi buku setebal ini? Itu namanya menyengsarakan diri! Cari cara yang lebih baik!”

Mereka berkumpul kembali, bermalam-malam membahas keinginan baginda. Akhirnya mereka mengumumkan bahwa jawabannya sudah ditemukan. Singkat, sesuai keinginan sang raja. Pada puncak acara satu pertemuan akbar yang diliput seluruh media massa dan stasiun TV (eh, emang sudah ada, ya?), diserahkanlah satu lembar kertas yang segera dibuka baginda dan dibacanya keras-keras. Isinya: “Tidak pernah ada makan siang gratis!” (diterjemahkan dari: There is no FREE lunch).

Apakah Anda setuju dengan “penemuan” para cerdik-pandai di kerajaan itu? Apakah Anda berpikir bahwa semua orang yang kita kenal: Aburizal Bakrie, Ciputra, SBY, JK, Hasyim Muzadi, Gus Dur, Rizal dan Andi Mallarangeng dengan mudah dan dengan begitu saja meraih nama besar mereka? Pernahkah Anda berpikir bahwa mereka ini selalu bersusah-payah mengalahkan diri-sendiri ketika datang godaan untuk tidak bertekun, tidak berkonsentrasi terhadap sasaran yang mereka kejar?

Pernahkah Anda berpikir bahwa mereka sering menghabiskan waktu 14 jam sehari untuk mencari jawab atas persoalan yang harus mereka pecahkan? Menghasilkan satu keberhasilan setelah bertubi-tubi didera kegagalan?
Untuk orang-orang seperti mereka satu kegagalan bukanlah akhir segalanya. Orang yang berhasil sealu akrab dengan kegagalan. Untuk mereka kegagalan, seperti pepatah, adalah “keberhasilan yang tertunda”. Mereka menghayati dan memahami hal itu. Satu kegagalan akan dipelajari untuk didapatkan manfaatnya sehingga dapat menjadi pelajaran untuk langkah-langkah selanjutnya.

Seorang motivator memberi perumpamaan menarik. Orang seperti mereka tidak pernah hanya duduk-duduk saja dan tidak berbuat apa-apa ketika ditimpa suatu masalah. Tuhan sudah menentukan bahwa satu-satunya jenis makhluk yang boleh duduk-duduk saja dan mendapatkan hasil maksimal hanya ada satu di dunia ini: unggas – termasuk ayam yang amat kita kenal itu (yang mengerami telur-telurnya)!

Lampu Merah dan Kesempurnaan

0 comments

Ketika kita akan pergi ke suatu tempat, entah dengan mobil, sepeda motor, atau kendaraan apapun, apakah kita menunggu sampai semua lampu hijau?

Tentu tidak.

Apakah kita juga menunggu sampai semua jalan sepi?

Tentu tidak.

Kita tentu akan terus melaju, berhenti ketika ada lampu merah, dan berjalan lagi ketika lampu hijau. Jika ada kendaraan yang menghalangi jalan, tentu kita akan mencari jalan untuk bisa melaluinya.

Ini sama seperti halnya jika ingin mencapai tujuan dalam hidup. Tidak perlu menunggu sampai semuanya sempurna.

Saat Kegagalan Terus Menerpa

0 comments


Banyak yang mengatakan bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Masalahnya bagaimana jika Anda mendapatkan kegagalan terus-menerus? Sudah mencoba berkali-kali namun tetap tidak berhasil juga. Apakah ada yang salah atau sudah ditakdirkan menjadi orang gagal?

Jika Anda menganggap bahwa Anda sudah ditakdirkan menjadi orang yang gagal, artinya Anda sok tahu. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, hanya Allah Yang Maha Mengetahui, kenapa kita mendahului-Nya?

Jika Anda mengatakan ada yang salah… maka jawaban Anda benar. Memang ada yang salah.

Apa kesalahan itu dan siapa yang salah?

Kegagalan Datang Karena Anda Kurang Mencoba

Anda gagal, jika Anda berhenti. Anda kurang mencoba. Anda bisa mengatakan sudah mencoba 100 kali, namun bisa jadi perlu 1.000 kali untuk berhasil. Mungkin Anda sudah berusaha selama 1 tahun, bisa jadi Anda harus menunggu 2 tahun agar bisa berhasil.

Thomas Alpha Edison melakukan 10.000 kali percobaan dalam menemukan bola lampu. Jika dia mengeluh dan berhenti mencoba setelah dia mencoba 100 kali, mungkin orang lain yang akan menjadi penemu. Seorang ahli photografi, harus memotret puluhan bahkan ratusan kali untuk menemukan hasil jepretan yang terbaik. Semuanya perlu percobaan, berulang kali, sampai Anda berhasil.

Banyak orang yang membangun bisnis, bertahun-tahun mengalami kerugian, dan dia mendapatkan untung pada tahun ke-3 atau lebih. Banyak kisah seperti ini, jika saya menuliskannya akan menjadi sebuah buku tersendiri. Intinya ialah, sering kali untuk meraih keberhasilan, memerlukan waktu yang panjang.

Jika Anda berhenti, artinya Anda memilih gagal. Atau kegagalan datang jika Anda berhenti mencoba.

Kegagalan Untuk Mereka Yang Tidak Sabar

Karena keberhasilan adalah perjalanan panjang, yang memerlukan percobaan berkali-kali, bahkan ribuan kali. Yang perlu perjalanan waktu yang panjang, maka untuk sukses kita perlu kesabaran. Sukses hanya untuk mereka yang teguh pada jalan yang benar. Mereka terus melakukan hal yang benar, tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti.

Hal ini disebabkan karena masih banyak yang berharap bahwa sukses itu instan. Saat keberhasilan tidak juga diraih maka mereka berhenti dan memutuskan untuk gagal. Memutuskan berhenti sama dengan memutuskan gagal.

Bisa saja sukses itu ada 3 langkah lagi dari tempat Anda berdiri saat ini. Saat ada keinginan untuk berhenti, ingatkanlah diri Anda: “mungkin tinggal 3 langkah lagi”.

Kegagalan Untuk Mereka Yang Kurang Ilmu

Anda tidak akan pernah berhasil, meski Anda sudah mencoba berkali-kali, jika caranya salah. Jika Anda tidak mengambil hikmah dari kegagalan masa lalu. Jika Anda tidak mengambil pelajaran dari keberhasilan orang lain. Jika Anda tidak mau belajar dari berbagai sumber. Yang Anda ketahui hanya cara yang salah. Jika Anda tidak mengubahnya, Anda tidak akan pernah berhasil.

Thomas Alpha Edison, melakukan 10.000 kali percobaan, dengan cara yang berbeda. Bukan dengan cara yang sama. Perbedaan itu bisa dari apa yang Anda lakukan atau cara Anda melakukannya. Dan, Anda akan mengetahui cara-cara lain jika Anda cukup ilmu. Belajarlah!

Perluas Horizon Anda

Kegagalan juga sering terjadi pada orang yang sempit horizonnya atau wawasannya. Dia yang membatasi diri, baik membatasi cara mencapai tujuan atau membatasi tujuannya.

Sebagai contoh, ada yang mengatakan dia telah gagal karena sudah tiga kali mencoba masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN). Tidak ada lagi kesempatan, katanya.

Iya, dia memang gagal masuk PTN, tetapi hidup dia belum gagal. Masih banyak peluang berhasil meski tanpa gelas dari PTN. Banyak orang yang berhasil, meski dia lulusan PTS, bahkan SMA, SMP, SD, bahkan tidak sekolah sekali pun. Jadi, jangan persempit keberhasilan hanya dengan mendefinisikannya dengan masuk PTN.

Tetaplah mencoba, bersabar, belajar, dan perluas wawasan Anda serta jangan lupa BERDOA juga. Mudah-mudahan kegagalan tidak terus menerpa Anda.

Cara Untuk Mengembangkan Rasa dan Sifat Sabar

0 comments

1. Jangan terlalu memikirkan mengenai masalah, sakit kepala dan kesakitan serta mengharapkan simpati dan perhatian daripada orang lain.

2. Terimalah hakikat bahawa lebih banyak perhatian yang anda berikan kepada perkara-perkara ini lebih teruklah keadaan anda nanti. Semua perkara akan menjadi kelam kabut dan hati anda terluka dan berasa tidak sabar kerana orang lain tidak ambil peduli.

3. Jangan fikir anda harus menunjuk kepada orang lain bahawa anda berada dalam keadaan yang betul dan dapat memenangi hati mereka dalam setiap perkara yang anda lakukan.

4. Terimalah hakikat betapa sukarnya untuk menyenangkan hati setiap orang pada setiap masa. Pastikan bahawa anda bersikap adil dan wajar dan biarkan masa menentukannya.

5. Jangan fikir anda mengetahui benar apa yang terbaik untuk orang lain.

6. Terimalah hakikat sementara anda boleh terus cuba memujuk, tetapi akan menimbulkan kesusahan untuk mengharapkan mereka melakukan apa yang anda hendakkan. Ini tentunya mencetuskan ketidaksabaran ke atas kedua-dua pihak.

7. Jangan memikirkan bahawa kerana terdapat mereka yang tidak bersetuju dengan anda, mereka bersifat tidak wajar terhadap anda.

8. Terimalah hakikat bahawa manusia berhak kepada pandangan yang dikemukakan. Anda mengharapkan mereka membenarkan anda mendapat hak yang sama itu.

9. Jangan fikirkan mengenai semua perkara buruk yang akan berlaku ke atas diri anda.

10. Terimalah keadaan bahawa setiap orang mempunyai masa rehatnya. Cuba lihat di luar daripada diri anda.

11. Bersimpati terhadap orang lain akan membantu anda bersifat lebih sabar.

12. Jangan fikirkan bahawa sifat yang tidak menentu itu (moodiness) dalam diri seseorang adalah terlalu penting.

13. Terimalah hakikat kadangkala diri kita yang baik inipun boleh mengalami sifat berubah-ubah atau tidak menentu itu. Hadapilah dengan tenang dan cubalah kawal sifat berubah-rubah diri anda itu.

14. Jangan fikir bahawa cita-clta dan apa yang anda kehendaki adalah terlalu penting.

15. Terimalah hakikat bahawa wujudnya kesulitan jika terlalu mengharapkan sesuatu perkara dalam hidup, terhadap diri anda dan orang lain. Jika anda terlalu berharap, kedukaan dan kekecewaan akan menjadikan anda sedih dan berkelakuan hilang sabar.

Anak Muda. Apa Saja Tantangannya?

0 comments

Bagaimana menurut Anda? Apakah tantangan yang dihadapi kaum muda generasi sekarang lebih sulit dibanding tantangan pada zaman dahulu? Jika Anda menjawab tidak, Anda mungkin merasa bahwa kaum remaja sekarang adalah kelompok yang paling beruntung dibanding kelompok orang muda mana pun dalam sejarah.

Di banyak negeri, obat-obat mengatasi berbagai penyakit yang dulunya merampas kesehatan dan kehidupan anak muda. Berkat teknologi, muncullah alat-alat dan mainan elektronik yang hanya bisa dibayangkan oleh generasi-generasi sebelumnya. Dan, perkembangan ekonomi telah mengentaskan jutaan keluarga dari kemiskinan. Memang, banyak sekali orang tua yang bekerja keras supaya anak-anak mereka dapat menikmati kondisi hidup serta kesempatan pendidikan yang mereka sendiri dulu tidak nikmati

Semakin Terasing

Di film, TV, dan majalah, kaum muda digambarkan selalu dikelilingi sekelompok teman yang bersahabat sejak masa sekolah sampai dewasa. Bagi sebagian besar remaja kenyataannya tidak seperti itu.

Peneliti Barbara Schneider dan David Stevenson, yang menganalisis wawancara dengan ribuan anak muda di Amerika Serikat, mendapati bahwa ”relatif sedikit siswa yang secara konsisten memiliki sahabat karib yang sama atau sekelompok kecil sahabat seiring dengan berlalunya waktu”. Banyak anak muda ”tidak mempunyai hubungan dekat dengan orang lain dan tidak mempunyai banyak sahabat yang nyaman diajak bicara tentang berbagai masalah atau diajak berbagi ide”, kata Schneider dan Stevenson.

Kalaupun punya sahabat, para remaja tampaknya tidak banyak waktu untuk digunakan bersama. Sebuah penelitian besar-besaran di Amerika Serikat mendapati bahwa kebanyakan remaja menggunakan kira-kira 10 persen dari waktu mereka untuk bertemu langsung dengan teman-teman, namun hingga 20 persen dari waktu mereka digunakan seorang diri—lebih banyak dibanding waktu bersama keluarga atau teman. Mereka makan sendirian, bepergian sendirian, mencari hiburan sendirian.

Tren mengasingkan diri ini bertambah parah seiring dengan maraknya peralatan elektronik. Misalnya, pada tahun 2006, majalah Time melaporkan bahwa anak-anak muda di Amerika antara usia 8 dan 18 tahun menggunakan, rata-rata, enam setengah jam sehari dengan mata terpaku pada TV, telinga disumbat earphone, atau tangan memegang joystick video-game atau papan ketik komputer.*

Tentu saja, generasi ini bukan yang pertama menghabiskan waktu berjam-jam untuk menikmati musik atau bermain game. Namun, banyaknya jumlah waktu yang sekarang digunakan bersama peralatan elektronik ketimbang untuk berinteraksi dengan keluarga bisa merusak. Peneliti Schneider dan Stevenson mengatakan, ”Anak muda melaporkan bahwa mereka memiliki harga diri yang lebih rendah, lebih tidak bahagia, lebih sedikit menikmati apa yang sedang mereka lakukan, dan merasa kurang aktif sewaktu berada sendirian.”
 
Ditekan untuk Berhubungan Seks 
 
Kaum remaja dan bahkan praremaja mendapat tekanan berat untuk mencoba-coba seks. Nathan, seorang pemuda yang tinggal di Australia, mengatakan, ”Kebanyakan anak yang aku kenal di sekolah mulai berhubungan seks pada usia antara 12 dan 15 tahun.” Vinbay, seorang wanita muda yang tinggal di Meksiko, mengatakan bahwa seks bebas sangat umum di kalangan kaum muda di sekolahnya. ”Mereka yang tidak berhubungan seks dianggap aneh,” katanya. ”Seks bebas begitu umum di kalangan temanku sampai-sampai tidak cukup sekadar menolak satu kali,” kata Ana, gadis berusia 15 tahun yang tinggal di Brasil. ”Kita harus berulang kali menolak ajakan.” 
 
Para peneliti di Inggris menyurvei seribu anak muda yang usianya berkisar antara 12 dan 19 tahun dan yang berasal dari berbagai latar belakang. Mereka mendapati bahwa hampir 50 persen dari kaum muda sering terlibat salah satu bentuk kegiatan seksual. Lebih dari 20 persen di antaranya masih berusia 12 tahun! Dr. Dylan Griffiths, yang mengawasi riset itu, mengatakan, ”Pembatasan yang secara turun-temurun diberlakukan oleh keluarga, Gereja, dan lembaga-lembaga lain sudah lenyap, sehingga kaum mudalah yang menjadi korban.” 
 
Apakah anak muda yang mencoba-coba seks benar-benar menjadi ”korban”? Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada tahun 2003, peneliti Rector, Noyes, dan Johnson melihat hubungan langsung antara kegiatan seksual remaja, depresi, dan meningkatnya kemungkinan upaya bunuh diri. Mereka menganalisis wawancara dengan 6.500 remaja dan mendapati bahwa ”anak perempuan yang berhubungan seks cenderung mengalami depresi tiga kali lipatnya anak perempuan yang tidak berhubungan seks”. Dan, anak lelaki ”yang berhubungan seks cenderung mengalami depresi dua kali lipatnya anak lelaki yang tidak berhubungan seks”.
 
Menurut sebuah penelitian, anak perempuan yang mencoba-coba seks cenderung mengalami depresi tiga kali lipatnya anak perempuan yang tidak melakukannya 
 
Keluarga yang Berantakan
 
Anak muda di Amerika Serikat telah mengalami pesatnya perubahan-perubahan struktur keluarga dan bergesernya nilai-nilai. ”Dalam beberapa dekade belakangan ini, ada beberapa perubahan demografi besar yang berpengaruh langsung atas kehidupan para remaja,” kata buku The Ambitious Generation—America’s Teenagers, Motivated but Directionless. ”Keluarga Amerika rata-rata semakin kecil, maka para remaja kemungkinan besar mempunyai lebih sedikit kakak adik. Dengan terus meningkatnya angka perceraian, semakin banyak anak menghabiskan sebagian masa kanak-kanak mereka bersama orang tua tunggal. Dan, ada lebih banyak ibu dari anak-anak di bawah usia delapan belas tahun yang harus bekerja, sehingga lebih kecil kemungkinannya ada orang dewasa di rumah."
 
Tidak soal anak-anak tinggal bersama satu atau bersama dua orang tua, banyak anak tidak merasa dekat dengan orang tua justru pada saat-saat mereka paling membutuhkannya. Sebuah penelitian yang memantau 7.000 remaja selama jangka waktu bertahun-tahun mendapati bahwa kebanyakan remaja menganggap orang tua mereka pengasih dan berpengertian. Meskipun demikian, ”hanya sepertiganya mengatakan bahwa mereka menerima perhatian khusus serta bantuan sewaktu mereka memiliki problem”. Penelitian itu juga mendapati bahwa ”bagi kebanyakan remaja, saat mereka menghadapi problem, orang tua justru tidak turun tangan dan menawarkan bantuan”. 
 
Di Jepang, ikatan keluarga yang dulunya kuat kini dirongrong hasrat akan kesuksesan materi. Yuko Kawanishi, profesor sosiologi, mengatakan, ”Kebanyakan orang tua dari para remaja dewasa ini berasal dari generasi pascaperang dunia kedua, dan bertumbuh dewasa sambil dicekoki seperangkat nilai baru yang menandaskan kesuksesan ekonomi dan keuntungan materi.” Nilai-nilai apa yang diteruskan para orang tua demikian kepada anak-anak mereka? ”Banyak orang tua dewasa ini hanya peduli dengan kesuksesan akademis anak-anak mereka,” kata Kawanishi. ”Asalkan anak-anak mereka belajar,” lanjutnya, ”semua hal lain di rumah menjadi nomor dua, atau bahkan tidak penting.” 
 
Apa dampak penekanan yang tidak seimbang atas kesuksesan materi dan pencapaian akademis demikian atas kaum muda? Di Jepang, media sering berbicara tentang kireru—istilah yang menggambarkan bagaimana anak muda secara mendadak lepas kendali sewaktu ditekan untuk tampil prima. ”Apabila anak-anak bertindak gila,” kata Kawanishi, ”hal itu mungkin karena mereka tidak merasa bahwa keluarga mereka mempunyai pengaruh yang mengekang atas perilaku mereka.”
Perilaku Merusak Diri
 
Menurut sebuah laporan pemerintah tahun 2006, penggunaan kokain di kalangan anak-anak usia 11 hingga 15 tahun di Inggris berlipat ganda dalam tempo satu tahun. Sekitar 65.000 anak muda mengatakan bahwa mereka telah mencoba memakai kokain. Di Belanda, lebih dari 20 persen kaum muda berusia antara 16 dan 24 tahun dilaporkan memiliki ketergantungan alkohol hingga taraf tertentu atau mengidap penyakit yang berhubungan dengan alkohol.

Banyak anak muda menyatakan tekanan batin mereka dengan cara yang lebih langsung. Mereka mengiris, menggigit, atau membakar tubuh mereka. ”Diperkirakan bahwa tiga juta orang Amerika punya kebiasaan mencederai diri, dan satu di antara setiap 200 remaja punya kebiasaan mencederai diri yang kronis,” kata periset Len Austin dan Julie Kortum.


[Catatan Kaki]
* Anak-anak muda yang menyendiri di kamar mereka begitu umum di Jepang sehingga mereka dijuluki hikikomori. Menurut perkiraan beberapa orang, ada antara 500.000 dan 1.000.000 hikikomori di Jepang.

Mengatasi Rasa Malu

0 comments

Rasa malu adalah sebuah kombinasi dari kegugupan sosial dan pengkondisian sosial. Untuk mengatasi rasa malu ini, yang Anda butuhkan adalah belajar bersikap rileks dalam pergaulan sosial. Untuk memulai mengurangi rasa malu, bagi Anda yang pemalu, ada beberapa hal di bawah ini yang mungkin dapat anda praktekan:
  1. Buat pertanyaan terbuka pada semua orang. Banyak orang yang lebih senang bicara tentang diri mereka sendiri, dan temukan sebuah topik yang membuat orang lain tertarik. Apa yang membuat mereka tertarik akan membuat perbicangan berjalan menyenangkan bagi semua orang. Selalu ajukan pertanyaan yang memungkinkan jawaban lebih dari ya/tidak.
  2. Pikirkan tentang cara Anda merasa dan bertindak di sekitar orang-orang yang telah Anda kenal, dimana Anda bisa merasa nyaman dan bersikap spontan. Alihkan perasaan itu saat Anda bertemu kenalan baru, begitu pula dalam situasi yang membuat rasa percaya diri Anda memudar.
  3. Hindari terlalu memperhatikan diri Anda sendiri. Tentu saja, Anda boleh sedikit memikirkan tentang bagaimana Anda akan melewatkan perbicangan dengan orang banyak, tapi jika seluruh fokus Anda tercurah pada kata-kata sendiri dan perasaan Anda, selanjutnya Anda akan mulai merasa gugup sendiri. Ingat-ingat apa yang dikenakan oleh orang lain dan buat catatan tersendiri, dengarkan apa yang mereka perbincangkan, bayangkan dimana mereka tinggal, buat sebuah garis besar atau ingat-ingat nama mereka.
  4. Nikmati waktu Anda. Hindari mengatakan hal-hal tanpa berpikir terlebih dulu. Ajukan pertanyaan, dan jika mendapat pertanyaa. Anda dapat mempertimbangkan jawaban terlebih dahulu sebagai tanggapan Anda, jangan asal menjawab tanpa berpikir. Jawaban yang diluncurkan dengan perlahan merupakan cara bersikap santai.
  5. Berhentilah percaya pada imajinasi Anda. Mungkin Anda pernah membuat gambaran tentang sebuah liburan yang menyenangkan dan pada kenyataanya jauh berbeda dari yang Anda bayangkan. Itu menunjukan beatapa tak dapat dipercayanya bayangan kita sendiri. Berhentilah memikirkan apa yang dipikirkan orang lain.  
  6. Berhentilah memikirkan ''segalanya atau bukan apa-apa.'' Pemikiran ''pasti begini/pasti begitu'' tertuang saat Anda mengalami emosi. Orang-orang yang sedang depresi, marah dan gelisah melihat kenyataan dari hal-hal ini dengan perbedaan yang ektrim. Bagi orang yang sedang marah ''Anda salah'' dan ''mereka benar,'' orang yang marah akan melihat dirinya ''gagal'', sedang yang lain ''berhasil.
  7. Akhirnya, gunakan latihan hipnotis. Hipnotis merupakan cara tercepat untuk mengubah tanggapan instink/emosi Anda dalam setiap situasi. Hanya pikirkan bahwa pikiran dan tubuh Anda dalam keadaan rilek sewaktu bertemu orang baru. Sebenarnya, sewaktu Anda merasa santai seringkali Anda akan menemukan saat yang tepat untuk menerapkan hipnotis agar merasa lebih percaya dirisaat berhadapan dengan orang-orang baru, dan tentu saja pada titik ini rasa malu akan tersingkir dengan sendirinya.

Apa itu Motivasi

1 comments

Motivasi berasal dari bahasa latin movere yang berarti dorongan atau menggerakkan. Dalam kehidupan, motivasi memiliki peranan yang sangat penting.
Sebab, motivasi adalah hal yang menyebabkan, menyalurkan, dan mendukung perilaku manusia, sehingga mau bekerja giat dan antusias mencapai hasil yang optimal.
Tanpa adanya motivasi dalam diri seseorang, maka dapat dipastikan bahwa orang itu tidak akan bergerak sedikitpun dari tempatnya berada. Begitupun dalam kehidupan berorganisasi, motivasi organisasi sangat mutlak adanya.

Sehebat apapun rencana yang telah dibuat oleh ketua organisasi, apabila dalam proses aplikasinya dilakukan oleh anggota yang kurang atau bahkan tidak memiliki motivasi yang kuat, maka akan menyebabkan tidak terealisasinya rencana tersebut.
Tidak salah jika kemudian Flipo mendefinisikannya dengan “Direction or motivation is essence, it is a skill in aligning employee and organization interest so that behavior result achievement of employee want simultaneously with attainment or organizational objectives”.

Motivasi organisasi adalah suatu keahlian, dalam mengarahkan pegawai dan organisasi agar mau bekerja secara berhasil, sehingga keinginan para pegawai dan tujuan organisasi sekaligus tercapai.
Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, manusia akan termotivasi oleh kebutuhan yang dimilikinya. Pendapat ini sejalan dengan Robin yang mengemukakan bahwa Motivasi organisasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individual.

Baron dalam Mangkunegara mendefinisikan motivasi organisasi sebagai proses pemberian dorongan kepada anak buah supaya anak buah dapat bekerja sejalan dengan batasan yang diberikan guna mencapai tujuan organisasi secara optimal. Motivasi ini dapat pula dikatakan sebagai energi untuk membangkitkan dorongan dalam diri.

Terkait dengan motivasi organisasi, perlu kita pahami, lima fungsi utama manajemen adalah planning, organizing, staffing, leading, dan controlling. Pada pelaksanaannya, setelah rencana dibuat (planning), organisasi dibentuk (organizing), dan disusun personalianya (staffing).

Langkah berikutnya adalah menugaskan atau mengarahkan anggota menuju ke arah tujuan yang telah ditentukan. Fungsi pengarahan (leading) ini secara sederhana adalah membuat anggota melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan dan harus mereka lakukan.
Memotivasi organisasi merupakan kegiatan kepemimpinan yang termasuk di dalam fungsi ini. Kemampuan ketua organisasi untuk memotivasi anggotanya akan sangat menentukan efektifitas ketua.
Ketua harus dapat memotivasi para anggotanya agar pelaksanaan kegiatan dan kepuasan kerja mereka meningkat. Jika ketua membiarkan anggotanya berjalan tanpa motivasi, maka bisa dipastikan kinerja organisasi yang memburuk, menemukan kegagalan program kerja, bahkan terancam bubar.

Menurut Atkinson, suatu organisme (dalam hal ini manusia dan hewan) yang dimotivasi akan terjun ke dalam suatu aktivitas secara lebih giat dan lebih efisien daripada yang tidak dimotivasi.
Selain menguatkan organisme itu, motivasi organisasi cenderung mengarahkan perilaku (orang yang lapar dimotivasi untuk mencari makanan untuk dimakan; orang yang haus, untuk minum; orang yang kesakitan, untuk melepaskan diri dari stimulus/rangsangan yang menyakitkan.

Jika demikian, motivasi organisasi memegang peranan yang tidak bisa diremehkan. Banyak cara yang bisa dilakukan, baik secara formal maupun informal. Baik secara organisatoris maupun pendekatan secara personal. Sebagai pimpinan organisasi, sebisa mungkin bisa memahami masalah anggotanya, sehingga bisa memecahkan masalah secara bersama. Peran evaluasi sangat penting dalam hal ini, sehingga tidak ada anggota yang merasa terpaksa menjalankan roda organisasi. Apalagi, jika organisasi bersifat sukarela, alias tidak ada upah kerja untuk anggotanya.

Cara-cara Efektif Mengatasi Depresi

2 comments

Gagal dalam ujian, putus cinta atau ditinggal mati orang yang sangat dekat bisa membuat orang merasa sangat terpukul dan depresi. Dalam keadaan tertentu, depresi dapat menjadi fatal. Ada tips efektif agar tak terpuruk karena depresi. Sebagian orang pasti pernah merasakan depresi. Tapi bila dibiarkan, depresi bisa menyebabkan hal yang fatal, seperti menghancurkan harga diri, merusak kesehatan jiwa dan mental, serta mengganggu kesejahteraan hidup. 
Ada 5 tips efektif yang dapat mengatasi depresi:
1. Biarkan tubuh mendapat cukup cahaya dan sinar matahari
Kurangnya paparan sinar matahari akan memicu keluarnya hormon melatonin lebih banyak. Hormon ini dapat memicu perasaan putus asa dan depresi. Hormon melatonin keluar jika seseorang ada dalam ruangan yang gelap. Kebanyakan melatonin dapat menurunkan suhu tubuh dan membuat orang lemas. Jika orang yang sedang merasa depresi selalu mengurung diri di dalam kamar dengan tirai tertutup, maka akan sulit baginya mengatasi depresi.
2. Menyibukkan diri
Dengan menyibukkan diri, orang akan dapat terinspirasi untuk dapat berbuat lebih baik. Hal ini akan lebih mungkin untuk mengatasi depresi. Cobalah untuk melakukan kegiatan yang disukai, seperti berjalan santai di taman, berolahraga, membaca buku atau terlibat dalam kegiatan apapun yang dapat membangkitkan gairah dan membuat hati senang. Tetapkan tujuan-tujuan yang berarti dalam hidup. Dengan sikap positif semacam ini, Anda akan mencapai suatu disposisi ceria untuk mengalahkan perasaan putus asa dan depresi.
3. Cukup istirahat dan waktu relaksasi
Mendengarkan musik yang menenangkan, berendam dalam air hangat atau melakukan pijat untuk merelaksasikan otot dapat mengurangi depresi dengan efektif.
4. Makan sehat dan tetap bugar
Hindari makanan yang mengandung banyak gula, kafein, atau alkohol. Gula dan kafein dapat memberikan energi instan, tapi nantinya akan membawa kecemasan, ketegangan dan masalah internal. Sedangkan alkohol adalah depresan. Banyak orang akan minum alkohol untuk melupakan masalahnya. Tapi itu justru hanya memperparah kondisinya. Berolahraga secara teratur adalah perusak dari depresi, karena memungkinkan tubuh untuk memproduksi endorfin lebih dari biasanya. Endorfin kadang-kadang disebut ‘zat kimia bahagia’ karena dapat mengurangi stres dan pendorong rasa bahagia yang alami.
5. Dukungan moral orang terdekat dan bersosialisasi dengan lingkungan
Keluarga, sahabat, teman bahkan tetangga adalah orang-orang yang dapat memberikan dukungan moral kepada Anda. Menghabiskan waktu dan terlibat dalam kegiatan yang bermanfaat bersama orang-orang terdekat dapat memberikan perasaan yang sangat memuaskan. Jangan pernah meremehkan kekuatan sentuhan. Rangkulan atau pelukan dari orang-orang terdekat dapat menjadi obat ampuh yang dapat menghilangkan stres dan ‘membunuh’ depresi. Selain itu, cinta dan hubungan dekat dengan keluarga serta teman, dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menangkal segala macam penyakit. Juga dapat membuat Anda merasa lebih aman, nyaman dan bahagia.

Filosofi Pensil dan Kehidupan

0 comments

Pada suatu sore yang teduh, seorang nenek tampak berkutat asyik dengan kegiatannya di halaman belakang sebuah rumah. Ia tampak sedang menuliskan sesuatu pada sebuah kertas. Kala itu, kemudian si cucu datang menghampiri dan bertanya, “Nenek sedang menulis apa Nek, sepertinya asyik sekali. Pensilnya baru ya Nek?”
Sambil tersenyum sabar, si nenek menjawab. “Nenek sedang menulis tentang kamu, cucu nenek yang cantik dan pintar,” ucapnya penuh sayang. “Tetapi, sebenarnya ada yang lebih penting lho dari isi tulisan ini, yaitu pensil yang nenek pakai untuk menulis ini.”
Si cucu sejenak merasa kebingungan mendengar penuturan nenek. Ia pun dengan saksama mengamati sesaat pensil yang ada di tangan nenek. Tak lama, si cucu berkata, “Selain pensilnya masih baru, rasanya tidak ada yang istimewa dari pensil Nenek. Memang apa hebatnya pensil Nenek dibandingkan dengan pensil yang lain?”
“Benar cucuku. Pensil nenek sama saja dengan pensil yang lain. Maksud nenek, sebatang pensil bukan hanya dinilai dari bentuk fisiknya, warna, atau panjang pendeknya, tetapi sebatang pensil sebenarnya mempunyai 5 kualitas unggulan yang bisa menjadi pedoman saat kita menjalani kehidupan ini,” jelas nenek sembari mengelus lembut rambut cucu kesayangannya.
“Memangnya selain untuk menulis, kualitas apa lagi yang dipunyai oleh sebatang pensil Nek?” tanya si cucu penasaran.
 “Dengarkan baik-baik ya…” ungkap nenek.
“Kualitas pertama yang perlu diperhatikan yaitu bahwa pensil dapyt menjadi pengingat kita kalau kita bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Yakni, mengingatkan bahwa seperti sebuah pensil ketika menulis, kita tidak boleh lupa bahwa ada tangan yang selalu membimbing langkah kita dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia selalu membimbing kita sesuai dengan ajaran-ajaranNya.”
“Kualitas kedua, Kamu bisa memperhatikan, bahwa saat proses menulis, kita kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil kita. Rautan itu seakan membuat si pensil menderita. Tetapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kehidupan manusia. Kita harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, termasuk berbagai ujian dan tantangan, karena itu semua yang akan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dan berkualitas.”
“Kualitas ketiga yang perlu kamu camkan adalah bahwa pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk menggunakan penghapus sebagai upaya memperbaiki kesalahan. Oleh karena itu, memperbaiki kesalahan dalam hidup ini bukanlah hal yang jelek atau buruk. Itu bahkan membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar. Hal ini sekaligus mengingatkan bahwa kita tak pernah luput dari berbagai jenis kesalahan.”
“Kualitas keempat yakni tentang bagian yang paling penting dari sebuah pensil. Jika kamu perhatikan, bagian yang paling bermanfaat bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalamnya. Begitu pula dengan kita. Karenanya, kita harus selalu memupuk hal-hal baik yang ada di dalam diri kita dengan terus meningkatkan kualitas dalam diri. Karena itu, kita perlu terus memupuk kekayaan mental dalam setiap tindakan kita.”
“Kualitas kelima adalah bahwa harus kita sadari jika sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga manusia, kita harus selalu sadar dan waspada karena apa pun yang kita perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan dan goresan. Maka berhati-hatilah dalam berpikir, berucap, dan bertindak. Sehingga, goresan yang kita tinggalkan akan menjadi guratan yang memberi manfaat bagi diri dan orang lain.”
Mendengar ucapan itu, si cucu pun berterima kasih pada nenek. “Akan saya ingat terus ucapan Nenek ini. Semoga, saya juga bisa menjadi ‘pensil’ yang berkualitas Nek…”
Sahabat yang luar biasa,
Hidup adalah proses belajar dan berjuang tanpa batas! Dan, setiap saat kita tak bisa lepas dari berbagai unsur yang ada di sekeliling kita.
Sebagai manusia yang ber-Tuhan, kita harus memiliki nilai spiritual untuk mengajarkan diri agar selalu rendah hati. Kemudian, dalam menjalani kehidupan, kita selayaknya terus berusaha memoles diri secara kontinu agar dapat meningkatkan kualitas pribadi.
Tak lupa, saat melakukan berbagai kesalahan, kita belajar berbenah diri untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik. Saat kita maju, tak lupa untuk tetap belajar. Melalui sikap belajar yang konsisten, semoga apa yang telah dan akan kita pikir, ucapkan, dan perbuat, mampu menjadi berkat bagi diri sendiri danbermanfaat untuk orang lain. Sehingga, hidup kita akan jauh lebih berarti.
Salam sukses, luar biasa!!!
Penulis : Andrie Wongso