Dua Kantong Yang Berbeda

1 comments

Alkisah, ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan & ketenangan di dalam hidupnya. Orang tersebut mempunyai dua kantong. Pada kantong yang satu terdapat lubang di bawahnya, tapi pada kantong yang lainnya tidak terdapat lubang.

Segala sesuatu yang menyakitkan yang pernah didengarnya seperti makian & sindiran, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang berlubang. Tetapi semua yang indah, benar, dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang tidak ada lubangnya.

Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam saku yang tidak berlubang, membacanya, dan menikmati hal-hal indah yang sudah diperolehnya sepanjang hari itu. Kemudian ia merogoh kantong yang ada lubangnya, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Maka ia pun tertawa dan tetap bersukacita karena tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwanya.

Sahabat terkasih, itulah yang seharusnya kita lakukan. Menyimpan semua yang baik di “kantong yang tidak berlubang”, sehingga tidak satupun yang baik, hilang dari hidup kita. Sebaliknya, simpanlah semua yang buruk di “kantong yang berlubang”, dan semua hal yang buruk itu akan jatuh dan tidak perlu kita ingat lagi.

Namun sayang sekali, masih banyak orang yang melakukan dengan terbalik..!!:( Mereka menyimpan semua yang baik di “kantong yang berlubang”, dan apa yang tidak baik di “kantong yang tidak berlubang” (dengan kata lain, memelihara pikiran-pikiran jahat dan segala sesuatu yang menyakitkan hati). Maka, jiwa kita akan menjadi tertekan & tidak ada gairah dalam menjalani hidup.

Oleh karena itu, agar bisa menikmati kehidupan yang bahagia dan tenang: jangan menyimpan apa yang tidak baik di dalam hidup kita (tahukah Anda: sakit hati, iri hati, dendam, dan kemarahan juga bisa menyebabkan penyakit serius bahkan kematian).

........ mari..!! kita coba hanya menyimpan hal2 yang baik dan bermanfaat saja agar hidup kita bahagia, shall we..??

JARUM YANG TAJAM

1 comments

Jarum yang baik adalah jarum yang memiliki ujung runcing & tajam. Dalam penggunaannya, jarum biasanya ditusukkan pada kain untuk merekatkan dgn kain yang lain. Jarum2 itu mampu menembus lapisan kain. Tidak ada jarum yg digunakan hanya untuk sekali tusukan. Untuk memperoleh gaun yg cantik, maka kain harus dipotong sesuai dgn pola & ditusuk dgn jarum berulang kali.

Dalam kehidupan ini, banyak jarum yg menusuk kita, antara lain jarum yg sangat tajam yaitu orang2 yang telah melukai batin kita... Ada juga jarum yang berkarat yaitu orang2 yang telah membawa dampak negatif bagi kehidupan kita.

Ada rasa sakit yang luar biasa saat jarum2 itu menusuk & menembus benteng pertahanan kita. Ada rasa kecewa, penyesalan, sakit hati dan terkadang timbul rasa putus asa.

Sering kali kita terlalu fokus pd ujung jarum sehingga kita merasakan sakit yg luar biasa. Kita menjadi lupa cara mengatasi kekecewaan itu sendiri. Tuhan tidak pernah membuat rencana yg sia2 bagi kita. Tuhan sdg menjahit bahkan memotong bagian yg tidak diperlukan dlm kehidupan kita .
Memang sakit rasanya tetapi ketahuilah bhw semua yg telah terjadi dlm kehidupan kita, baik atau buruk, enak atau tidak enak, susah atau senang, suka atau duka, semua itu adalah anugerah terindah dari Tuhan.

Tuhan mempunyai cara yang ber-beda2 untuk memberkati setiap orang. Bahkan saat orang lain sedang mengecewakan kita saat ini... itu juga merupakan berkat dari Tuhan. Tuhan mempunyai rancangan tersendiri bagi kita. Apa yg kita inginkan & apa yg kita anggap baik, belum tentu baik juga di mata Tuhan.

Saat ini Tuhan ijinkan kita mengalami kekecewaan, kita percaya bhw itu adalah berkat terbaik yg Tuhan berikan pada kita. Saat kita berdoa pada-Nya, Diapun memberi jawaban yang luar biasa: "Percayalah padaKu dan jangan ragukan Aku." Bersyukurlah terhadap segala sesuatu yg terjadi dan tetap percayalah bhw Tuhan punya rencana indah bagi kehidupan kita.

Teori Buah Pada Kehidupan

0 comments

  1. Jadilah Jagung, Jangan Jambu Monyet.
    Jagung membungkus bijinya yang banyak, sedangkan jambu?monyet memamerkan bijinya yang cuma satu-satunya.
    Artinya : Jangan suka pamer
  2. Jadilah pohon Pisang.
    Pohon pisang kalau berbuah hanya sekali, lalu mati.
    Artinya : Kesetiaan dalam pernikahan.
  3. Jadilah Duren, jangan kedondong
    Walaupun luarnya penuh kulit yang tajam, tetapi dalamnya lembut dan manis. hmmmm, beda dengan kedondong, luarnya mulus, rasanya agak asem dan di dalamnya ada biji yang berduri.
    Artinya : Don’t Judge a Book by The Cover.. jangan menilai orang dari Luarnya saja.
  4. Jadilah bengkoang.
    Walaupun hidup dalam kompos sampah, tetapi umbinya isinya putih bersih.
    Artinya : Jagalah hati agar tetap bersih dari perbuatan jahat.
  5. Jadilah Tandan Pete, bukan Tandan Rambutan.
    Tandan pete membagi makanan sama rata ke biji petenya, semua seimbang, tidak seperti rambutan.. ada yang kecil ada yang gede.
    Artinya : Selalu adil dalam bersikap.
  6. Jadilah Buah Manggis
    Bisa ditebak isinya dari pantat buahnya.
    Artinya : Jangan Munafik
  7. Jadilah Buah Nangka
    Selain buahnya, nangka memberi getah kepada penjual atau yg memakannya.
    Artinya : Berikan kesan kepada semua orang (tentunya yg baik).

    Karena dengan apa yang kita lakukan adalah perwujudan dari kasih TUHAN sebenarnya.

Human Brain Analysis - Man vs Woman

0 comments

1. MULTI-TASKING
Women - Multiple process
Womens brains designed to concentrate multiple task at a time.
Women can Watch a TV and Talk over phone and cook.
Men - Single Process
Mens brains designed to concentrate only one work at a time. Men can not watch TV and talk over the phone at the same time. they stop the TV while Talking. They can either watch TV or talk over the phone or cook.

2. LANGUAGE
Women can easily learn many languages. But can not find solutions to problems. Men can not easily learn languages, they can easily solve problems. That's why in average a 3 years old girl has three times higher vocabulary than a 3 years old boy.

3. ANALYTICAL SKILLS
Mens brains has a lot of space for handling the analytical process. They can analyze and find the solution for a process and design a map of a building easily. But If a complex map is viewed by women, they can not understand it. Women can not understand the details of a map easily, For them it is just a dump of lines on a paper.

4. CAR DRIVING.
While driving a car, mans analytical spaces are used in his brain. He can drive a car fastly. If he sees an object at long distance, immediately his brain classifies the object (bus or van or car) direction and speed of the object and he drives accordingly. Where woman take a long time to recognize the object direction/ speed. Mans single process mind stops the audio in the car (if any), then concentrates only on driving.

5. LYING
When men lie to women face to face, they get caught easily. Womans super natural brain observes facial expression 70%, body language 20% and words coming from the mouth 10%. Mens brain does not have this. Women easily lie to men face to face.
So guys, do not lie face to face.

6. PROBLEMS SOLVING
If a man have a lot of problems, his brain clearly classifies the problems and puts them in individual rooms in the brain and then finds the solution one by one. You can see many guys looking at the sky for a long time. If a woman has a lot of problems, her brain can not classify the problems. she wants some one to hear that. After telling everything to a person she goes happily to bed. She does not worry about the problems being solved or not.

7. WHAT THEY WANT
Men want status, success, solutions, big process, etc... But Women want relationship, friends, family, etc...

8. UNHAPPINESS
If women are unhappy with their relations, they can not concentrate on their work. If men are unhappy with their work, they can not concentrate on the relations.

9. SPEECH
Women use indirect language in speech. But Men use direct language.

10. HANDLING EMOTION
Women talk a lot without thinking. Men act a lot without thinking.

Pohon Gengsi

0 comments

Di sebuah pekarangan, masing-masing petak telah disepakati dipakai oleh orang-orang yang terlibat di sana. Tidak peduli apakah orang itu masih yunior atau senior. Pekarangan luas itu telah diberi dibatasi untuk masing-masing orang dengan adil.

Seorang yunior di sana menanam sepetak tanahnya dengan tanaman obat. Sengaja ia bawa pohon itu dari tempat yang jauh agar khasiat tanaman itu bisa dinikmati banyak orang. Memang tanaman itu kecil saja, daunnya rimbun dan sesekali ada ulat yang sering terlihat memakan daunnya. Hanya daun dari pohon itu saja. Tidak kepada tanaman lain. Sang yunior pun sangat peduli dan merawat pohon itu dengan telaten.

Salah satu senior yang sering protes kepada pohon milik yunior itu sebenarnya tidak suka pohon itu ada. Alasannya karena ulatnya semakin banyak. Meski ia sudah diberitahu bahwa ulat tidak akan mengganggu, ada saja yang ia protes. Bahkan ia juga tidak suka dengan adanya pohon itu karena katanya bisa mengambil batas petakan yang lain. Ia meminta si yunior supaya lebih rajin memangkas tanamannya. Hingga satu hari ia menyaksikan sendiri kegunaan dari pohon obat milik yuniornya itu. Si senior mulai sedikit diam meski sesekali tetap saja ada yang menjadi protesnya.

Seperti biasa, si yunior itu harus memangkas pohon obatnya. Ia memotong dahan yang sudah banyak tumbuh serta memotong dedaunan. Ada yang untuk obat, ada pula yang dibuang. Sehabis dipangkas dan dibersihkan ia pun dengan rapi membuang bekas tebangan tanamannya itu ke tempat sampah sementara. Besok pagi akan ada yang mengambil sampah-sampah yang ada untuk dibuang ke tempatnya.

Tanpa sepengetahuan si yunior, malam-malam senior yang semula protes terhadap tanaman yang dimiliki yunior itu mencari dahan yang masih baik dan layak untuk ditanam kembali. Tanpa sepengetahuan siapa pun, ia menanamkan kembali dahan itu ke tanah petak bagian yunior itu.

* Kadang kita tidak mau mengakui keberhasilan orang lain. Meski banyak orang mengakui, ada saja rasa gengsi untuk mengakui bahkan sudah ada bukti di depan mata. Lalu, apakah demi menahan gengsi kita harus dengan cara sembunyi-sembunyi mengakui keberhasilan itu?

Bukan Omong Kosong Tentang Cita-cita dan Keberanian

0 comments

Bila ada cita-cita maka siapapun akan menjadi luar biasa. Bila ada keberanian pasti ada kemukjizatan. Demikian Sang Guru berkata.

MEMILIKI CITA-CITA AKAN MENJADI LUAR BIASA

Para orang tua atau guru sering bertanya tentang cita-cita kepada anak-anaknya. Mengapa? Karena cita-cita akan menjadi tujuan hidup anak-anak kelak.

Begitu pentingnya sebuah cita-cita dalam kehidupan kita. Karena cita-cita merupakan kompas bagi kehidupan.

Bayangkan bagaimana jadinya bila seseorang berjalan tanpa tujuan? Setiap hari keluar rumah tanpa ada tujuannya ke mana ia melangkah.

Karena adanya cita-cita, maka seseorang akan menjadi luar biasa. Cita-cita adalah kekuatan yang menggerakkan.

Karena itulah tak salah bila Bung Karno, presiden pertama kita berkata,”Gantungkan cita-citamu setinggi langit.”

Kenapa setinggi langit? Karena tingginya langit seakan tanpa batas, sebab begitu tingginya. Demikianlah agar kita menggantungkan cita-cita.

Dengan adanya cita-cita, membuat kita fokus untuk menggapainya. Ada tujuan dan gairah untuk mewujudkan. Akhirnya terjadi pencapaian yang luar biasa.

Idealnya kita memiliki cita-cita bukan hanya untuk urusan keduniawian saja. Misalnya bercita-cita jadi dokter atau penyanyi terkenal.

Lalu untuk mencapainya kita memfokuskan seluruh perhatian dan energi. Untuk urusan kerohanian tidak kebagian lagi. Selama ini kita terlena dalam cita-cita keduniawian saja.

Cita-cita dalam urusan kerohanian sebenarnya jauh lebih penting lagi untuk dibentangkan.

Untuk cita-cita dalam hal kerohanian, coba kita definisikan sendiri. Karena masing-masing pasti memiliki pandangannya.

Kita memang semestinya lebih menekankan dalam hal kerohanian. Karena itu bukan hanya menyangkut kehidupan kita saat ini saja.

KEBERANIAN AKAN MENCIPTAKAN KEMUKJIZATAN

Keberanian. Setiap orang harus mempunyai keberanian dalam hidup ini.

Tanpa keberanian kita akan kalah dan tenggelam dalam arus kehidupan.

Apabila kita menginginkan banyak kemukjizatan terjadi dalam hidup ini. Bukan hanya dengan berdoa lalu akan datang dari langit.

Tetapi dengan keberanian, maka akan mengharukan Tuhan menurunkan kemukjizatan-Nya.

Banyak hal yang secara logika tidak mungkin terjadi. Tetapi karena keberanian, maka terjadi kemukjizatan.
Seorang teman, divonis menderita penyakit kanker. Tidak akan panjang lagi umurnya.

Walau dengan tubuh yang lemah, ia bersembahyang dengan sepuluh ribu kali sujudan. Padahal dalam keadaan normal tiga ribu kali saja sudah sulit rasanya.

Apa yang terjadi? Ya kemukjizatan, ketika diperiksa dokter kembali. Penyakitnya sudah raib.

Kemukjizatan tidak selalu berhubungan dengan kemustahiilan. Semisal seseorang yang tidak berani berbicara di depan umum.

Oleh karena keberanian, tiba-tiba ia bisa lancar berbicara di hadapan banyak orang. Lancar lagi. Bukankah itu kemukjizatan juga?

Bagi saya, bisa menulis sampai ribuan di Kompasiana adalah sebuah kemukjizatan. Tak terpikirkan. Modal awalnya ya karena berani menghindari dari rasa ketidak-percayaan diri. Siapalah saya. Dalam hal ini berani malu juga. Tapi malu yang positif tentunya.

Katedrarajawen

Perbedaan Diciptakan Manusia

0 comments

Perbedaan…
 Sebuah kata yang bisa mengundang perdebatan bahkan permusuhan
Padahal, Tuhan tidak pernah menciptakan perbedaan.

Dan yang terpenting adalah… Tuhan tidak menurunkan Agama, melainkan Firman (Ajaran)

Firman tentang kebenaran lah yang diajarkan Tuhan dan bukan Agama

Agama lahir setelah Para Nabi kembali ke Surga

Agama lah yang kemudian membuat manusia menjadi terpisah kotak demi kotak (Bukan menyalahkan Agama, melainkan manusia yang memperdebatkan perbedaan)

Jika terpaku pada catatan-catatan sejarah, yang dicatat oleh manusia sudah pasti kita akan menjadi kotak dan terperangkap.

Jika manusia dapat menembus perbedaan demi perbedaan maka manusia akan kembali kepada kesucian Firman akan kebenaran yang sudah diturunkan Tuhan berkali-kali.

Namun namanya manusia, masih manusiawi, berkali-kali diturunkan AjaranNya tentang kebenaran pun tetap saja banyak yang tersesat. Termasuk saya pun banyak tersesat, tersesat karena mengejar duniawi.

Dan kebesaran Tuhan terwujud dari caraNYA menurunkan Firman dengan tidak menurunkannya hanya di satu tempat saja. Dengan tujuan agar dapat benar-benar menembus batas perbedaan antar bangsa, bahasa, budaya dll yang kesemuanya bersifat kebendaan.

Namun sayang sungguh sayang, perbedaan-perbedaan tersebut malah disikapi dengan perdebatan yang tiada akhir dan melupakan arti sesungguhnya dari setiap Firman yang diturunkan diberbagai penjuru bumi. Dan akhirnya mencapai klimaks pada pembenaran terhadap hanya salah satu ajaran dan menganggap bahwa ajaran lainnya yang sebenarnya sumber FirmanNya hanya satu yaitu Tuhan, sebagai sesuatu yang tidak benar. Padahal yang dicap tidak benar itu pun semuanya mengandung kebenaran akan Firman Tuhan.

Itulah Manusia.

Sangat bahagia jika mendengar ada yang menyikapi perbedaan dengan begitu indahnya. Manusia seperti inilah yang mampu menembus batasan dan benar-benar mengerti apa yang telah diamanatkan Tuhan melalui Firman-firmanNYA dan melalui utusan-utusanNya di berbagai pernjuru bumi.
Tuhan tidak pernah menciptakan perbedaan.

Sudahkah anda menembus batas perbedaan tersebut dan bersatu kembali dengan Firman-firmanNYA???

Jarak Pandang

0 comments

Kita pasti tahu sedikit banyak tentang Elang, hewan pemangsa yang mampu menerkam dalam ketepatan dan kecepatan mengagumkan. Saya mendapati bahwa ketika seekor Elang memilih area untuk memangsa, Ia akan terbang berputar beberapa kali, mengamati keadaan di sekeliling mangsanya untuk mempelajari situasi, kemudian mengambil manuver pada jarak yang cukup, lalu terbang menukik tajam dengan kecepatan 75-100 meter per-jam menerkam mangsa dengan kedua kakinya yang kuat, dan dibawanya terbang sangat tinggi.

Elang memang memiliki mata yang sungguh tajam, tapi keahliannya mempelajari situasi, memberi pemahaman kepada saya tentang karakter visioner dalam spiritualitas kepemimpinan. Elang tidak sekadar memiliki mata awas, tetapi juga kemampuan mengelola jarak pandang yang tepat untuk berhasil mendapatkan hasil optimal.
Seorang pemimpin dengan karakter visioner, diminta untuk dapat memelihara jarak pandang yang balk, agar marnpu mengarahkan semua potensi mencapai sasaran dengan sukses. Ketika pemimpin kehilangan kemampuan melihat apa yang ada di depannya, maka ia kehilangan banyak peluang dan kesempatan menemukan strategi yang tepat dalam mencapai keberhasilan. 

Kerja Keras? Bukan Kerja Pintar 

Jangan memimpin dalam semangat kerja keras, memimpinlah dalam paradigma berpikir kerja pintar. Mengusahakan dengan giat untuk tujuan yang ingin dicapai, tidak salah. Tetapi, perhatikan, itulah mengapa tak jarang, kita terhalang berbagai kendala yang menurunkan semangat, mengaburkan fokus dan bahkan menghilangkan keberhasilan. Mengapa? Karena, kita begitu terpana pada sasaran, lalu melupakan bahwa selain peluang-peluang, terdapat juga keadaan-keadaan yang memerlukan perhatian Ada beberapa potensi bahaya kegagalan yang meski kecil, tersebar di antara sasaran, yang perlu di cermat dan diketahui bagaimana menghadapinya. lnilah saat tepat, mengubah gaya kerja kita menjadi kerja pintar.

Lihat Elang. Ketika ia berputar sekali, Ia tengah memastikan mana yang akan menjadi sasarannya. Kala Elang melakukan ini, kawanan mangsanya mungkin sangat waspada dan mulai mencari ancang-ancang melarikan diri. Elang tahu persis, ia akan kehilangan sasaran, dan terbang memutari area itu dengan sedikit leblh tinggi dengan sebelumnya. Kawanan mangsa mengira, Elang tengah menyerah dan terbang menjauh, padahal ia tengah mengamati, di mana letak mangsa sasarannya, dan hal apa saja yang mungkin menghalangi tujuannya. Elang memutar sekali lagi, ingin mengunci jarak pandangnya pada mangsa dengan semua informasi bahaya yang Ia telah pelajari sebelumnya, menukik tajam, dan dengan sergap menyengkeram mangsa dengan kedua kaki serta membawa terkamannya menjauh ke angkasa, makin tinggi menuju sarangnya.

Pemimpin visioner tahu betul apa tujuan yang hendak dicapai, mengunci target itu dengan cermat. Pergi memutar untuk mempelajari semua peluang dan bahaya. Ketika benar-benar dapat dipastikan bahwa segala sesuatu telah cukup matang, mengambil langkah sigap mengambil keputusan tepat, dan melakukan tindakan strategis rnencapai tujuan. 

Dalam kepemimpinan spiritual, karakter visioner berarti memiliki jarak pandang yang tepat. Bukan saja atas tujuan apa dan bagaimana melaksanakan kepemimpinan, tetapi juga atas hal mengatur strategi pada menentukan kapan memimpin untuk melakukan tindakan nyata meraih keberhasilan.

Bawa Lebih Jauh! 

Saat menerkam mangsa, Elang tidak segera terbang rendah, tetapi terbang menjauh dan makin tinggi ke angkasa. Mengapa?  Mangsa yang diterkam, pasti terkejut dan berupaya mengelak untuk melepaskan din dan terkaman kaki Elang yang kuat mengunci. Elang tahu, jika ia lengah membiarkan mangsanya bergerak bebas, maka ia pun akan kehilangan kesempatannya. Mangsa itu dibawanya terbang meninggi, dan ketika berada makin tinggi dan tanah, mangsa yang tengah berontak mcrasakan kekuatannya makin berkurang karena keadaannya dibawa kepada kondisi di luar habitatnya. Mangsa-mangsa yang hidup di darat dan air, merasakan berada pada ketinggian tertentu di atas tanah, amat menakutkan. Ketika Elang tetap makin membawanya terbang menjauh, selain keliahan berontak dan cengkeraman, ia pasti telah lemas ketakutan karena ketinggian, dan Elang tidak mengalami perlawanan berat dan mangsanya itu. 

Pemimpin visioner tahu, ketika mencapai tujuan, ia harus membawa pencapaian itu berada makin tinggi. Setiap keberhasilan dilanjutkan dengan penetapan keberhasilan selanjutnya yang lebih tinggi dan sebelumnya. Pemimpin visioner menggunakan momentum-momentum dan memutuskan bahwa tidak ada jalan lain untuk mempertahankan keberhasilan selain menggunakan momentum untuk menanjak makin tinggi mengalahkan keadaan pencapaian awal dan memperoleh keberhasilan selanjutnya. Gunakan momentum, dan arahkan lebih jauh untuk keberhasilan selanjutnya. Jangan berhenti pada satu keberhasilan dan terbuai dengan sukses sesaat. Bawa lebih jauh untuk mencapai hash lebih lagi. 

Jangan Paksa, Jatuhkan Saja! 

Ketika Elang menerkam ikan yang tengah berenang, ia berusaha membawa pergi ikan terbang tinggi. Tetapi, arus sungai dan berat ikan besar membuat elang harus menggunakan sayapnya sebagai dayung yang menghela tubuhnya mengikuti deras air, menaikkan badannya sedikit demi sedikit. Ketika mulai terangkat, ikan bereaksi menggeliat-geliat diangkat dan habitatnya, berjuang untuk tetap hidup. Karena tidak sanggup menahan berat ikan dan kondisi arus sungai, Elang memutuskan untuk melepaskan cengkeramannya, dan ikan pun jatuh kembali masuk sungai dan pergi. Keputusan Elang, menyelamatkann dirinya dan bahaya tenggelam. 

Meski segala sesuatu telah matang direncanakan dan siap dilaksanakan, seorang pemimpin dengan karakter visioner tahu, jika lebih banyak bahaya, lebih baik berhenti dan tidak melanjutkan, sampai semua potensi masalah dapat dihindarkan dan diselesaikan. Pemimpin visioner memiliki jarak pandang yang jernih untuk baksana memutuskan berhenti, lepaskan, dan menghindarkan dan potensi kegagalan yang menghancurkan kelangsungan proses pencapaian. kita tidak perlu memaksa. Jika keadaan tidak berpihak pada kita, mengalah sebentar, dan perbaiki strategi untuk mencapai keberhasilan. Pertahankan jarak pandang, gun akan mata elang visionari kita.

Beberapa Karakter Peserta Didik

0 comments

Begitu banyak tipe kepribadian menurut para ilmuwan. Berikut ini adalah tipe-tpe kepibadian menurut masing-masing para ahli agar kita lebih memahami kepribadian peserta didik sehingga saat proses kegiatan belajar dan mengajar berlangsung dengan maksimal.


Menurut Eysenck 1964 (dalam Buchori 1982) menyatakan

Tipe kepribadian dibagi menjadi tiga, yaitu:
  • Kepribadian Ekstrovert: dicirikan dengan sifat sosiabilitas, bersahabat, menikmati kegembiraan, aktif bicara, impulsif, menyenangkan spontan, ramah, sering ambil bagian dalam aktivitas sosial.
  • Kepribadian Introvert: dicirikan dengan sifat pemalu, suka menyendiri, mempunyai kontrol diri yang baik.
  • Kepribadian Neurosis: dicirikan dengan pencemas, pemurung, tegang, bahkan kadang-kadang disertai dengan simptom fisik seperti keringat, pucat, dan gugup.
Menurut Mahmud 1990 (dalam Suadianto 2009) menyatakan

Kepribadian terbagi menjadi dua belas kepribadian, yang meliputi kepribadian sebagai berikut:
  • Mudah menyesuaikan diri, baik hati, ramah, hangat VS dingin.
  • Bebas, cerdas, dapat dipercaya VS bodoh, tidak sungguh-sungguh, tidak kreatif.
  • Emosi stabil, realistis, gigih VS emosi mudah berubah, suka menghindar (evasive), neurotik.
  • Dominat, menonjolkan diri VS suka mengalah, menyerah.
  • Riang, tenang, mudah bergaul, banyak bicara VS mudah berkobar, tertekan, menyendiri, sedih.
  • Sensitif, simpatik, lembut hati VS keras hati, kaku, tidak emosional.
  • Berbudaya, estetik VS kasar, tidak berbudaya.
  • Berhati-hati, tahan menderita, bertanggung jawab VS emosional, tergantung, impulsif, tidak bertanggung jawab.
  • Petualang, bebas, baik hati VS hati-hati, pendiam, menarik diri.
  • Penuh energi, tekun, cepat, bersemangat VS pelamun, lamban, malas, mudah lelah.
  • Tenang, toleran VS tidak tenang, mudah tersinggung.
  • Ramah, dapat dipercaya VS curiga, bermusuhan.
Menurut Hippocrates dan Galenus (dalam Kurnia 2007)

Tipologi kepribadian yang tertuang bersifat jasmaniah atau fisik. Mereka mengembangkan tipologi kepribadian berdasarkan cairan tubuh yang menentukan temperamen seseorang. Tepe kepribadian itu antara lain:
  • Tipe kepribadian choleric (empedu kuning), yang dicirikan dengan pemilikan temperamen cepat marah, mudah tersinggung, dan tidak sabar.
  • Tipe melancholic (empedu hitam), yang berkaitan dengan pemilikan temperamen pemurung, pesimis, mudah sedih dan mudah putus asa.
  • Tipe phlegmatic (lendir), yang bertemperamen yang serba lamban, pasif, malas, dan kadang apatis/ masa bodoh.
  • Tipe sanguinis (darah), yang memiliki temperamen dan sifat periang, aktif, dinamis, dan cekatan.
Menurut Kretchmer dan Sheldon (dalam Kurnia 2007) menyatakan bahwa
Tipologi kepribadian berdasarkan bentuk tubuh atau bersifat jasmaniah. Macam-macaam kepribadian ini adalah:
  • Tipe asthenicus atau ectomorpic pada orang-orang yang bertubuh tinggi kurus memiliki sifat dan kemampuan berpikir abstrak dan kritis, tetapi suka melamun dan sensitif.
  • Tipe pycknicus atau mesomorphic pada orang yang betubuh gemuk pendek, memiliki sifat periang, suka humor, popular dan mempunyai hubungan sosial luas, banyak teman, dan suka makan.
  • Tipe athleticus atau mesomorphic pada orang yang bertubuh sedang/ atletis memiliki sifat senang pada pekerjaan yang membutukhkan kekuatan fisik, pemberani, agresif, dan mudah menyesuaikan diri.
Namun demikian, dalam kenyataannya lebih banyak manusia dengan tipe campuran (dysplastic).

Menurut Jung (dalam Sudianto 2009)

Tipologi kepribadian dikelompokan berdasarkan kecenderungan hubungan sosial seseorang, yaitu:
  • Tipe Ekstrovert yang perhatiannya lebih banyak tertuju di luar.
  • Tipe Introvert yang perhatiannya lebih tertuju ke dalam dirinya, dan dikuasai oleh nilai-nilai subjektif.
Tetapi, umumnya manusia mempunyai tipe campuran atau kombinasi antara ekstrovert dan introvert yang disebut ambivert.

Pada periode anak sekolah, kepribadian anak belum terbentuk sepenuhnya seperti orang dewasa. Kepribadian mereka masih dalam proses pengembangan. Wijaya (1988) menyatakan “karakteristik anak secara sederhana dapat dikelompokkan atas:
  1. Kelompok anak yang mudah dan menyenangkan.
  2. Anak yang biasa-biasa saja.
  3. Anak yang sulit dalam penyesuaian diri dan sosial, khususnya dalam melakukan kegiatan pembelajaran di dekolah”.

Menurut Kurnia (2007) menjelaskan bahwa:

Karakteristik atau kepribadian seseorang dapat berkembang secara bertahap. Berikut ini adalah krakteristik perkembangan pada masa anak samapai masa puber.
Krakteristik perkembangan masa anak awal (2-6 tahun)

Masa anak awal berlangsung dari usia 2-6 tahun, yaitu setelah anak meninggalkan masa bayi dan mulai mengikuti pendidikan formal di SD. Tekanan dan harapan sosial untuk mengikuti pendidikan sekolah menyebabkan perubahan perilaku, minat, dan nilai pada diri anak. Pada masa ini, anak sedang dalam proses penegmbangan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan. Perilaku anak sulit diatur, bandel, keras kepala, dan sering membantah dan melawan orang tua. Hal ini memang sangat menyulitkan para pendidik. Tak heran, apabila para guru Playgroup sampai SD harus lebih bersabar dalam melangsungkan pembelajaran atau mendidik siswa. Disiplin mulai bisa diterapkan pada anak sehingga anak dapat mulai belajar hidup secara tertib. Dan sikap para pedidik sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak.
Krakteristik perkembangan masa anak akhir (6-12 tahun)

Karakteristik atau ciri-ciri periode masa anak akhir, sama halnya dengan ciri-ciri periode masa anak awal dengan memperhatikan sebutan atau label yang digunakan pendidik. Orang tua atau pendidik menyebut masa anak akhir sebagai masa yang menyulitkan karena pada masa ini anak lebih banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebaya daripada oleh orang tuanya. Kebanyakan anak pada masa ini juga kurang memperhatikan dan tidak bertanggung jawab terhadap pakaian dan benda-benda miliknya. Para pendidik memberi sebutan anak usia sekolah dasar, karena pada rentang usia ini (6-12 tahun) anak bersekolah di sekolah dasar. Di sekolah dasar, anak diharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang dianggap penting untuk keberhasilan melanjutkan studi dan penyesuaian diri dalam kehidupannya kelak.
Krakteristik perkembangan masa puber (11/12 – 14/15 tahun)

Masa puber adalah suatu periode tumpang tindih antara masa anak akhir dan masa remaja awal. Periode ini terbagi atas tiga tahap, yaitu tahap: prapuber, puber, dan pascapuber. Tahap prapuber bertumpang tindih dengan dua tahun terakhir masa anak akhir. Tahap puber terjadi pada batas antara periode anak dan remaja, di mana ciri kematangan seksual emakin jelas (haid dan mimpi basah). Tahap pascapuber bertumpang tindih dengan dua tahun pertama masa remaja. Waktu masa puber relatif singkat (2-4 tahun) ini terjadi pertumbuhan dan perubahan yang sangat pesat dan mencolok dalam proporsi tubuh, sehingga menimbulkan keraguan dan perasaan tidak aman pada anak puber. Peubahan fisik dan sikap puber ini berakibat pula pada menurunnya prestasi belajar, permasalahan yang terkait dengan penerimaan konsep diri, serta persoalan dalam berhubungan dengan orang di sekitarnya. Orang dewasa maupun pendidik perlu memahami sikap perilaku anak puber yang kadang menaik diri, emosional, perilaku negative dan lai-lain, serta membantunya agar anak dapat menerima peran seks dalam kehidupan bersosialisasi dengan orang atau masyarakat di sekitarnya.

Perkembangan kepribadian

“Kata kepribadian dalam bahasa asing disebut dengan kata personality. Kata ini berasal dari kata latin, yaitupersona yang berarti “topeng” atau seorang individu yang berbicara melalui sebuah topeng yang menyembunyikan identitasnya dan memerankan tokoh lain dalam drama” (Buchori, 1982:91). Sehingga kepribadian seseorang adalah perangsang dari orang tua atau kesan yang ditimbulkan oleh keseluruhan tingkah laku orang lain.

Kepribadian bersifat dinamis (tidak statis), danmelainkan berkembang secara terbuka sehingga manusia senantiasa berada dalam kondisi perubahan dan perkembangan. Kepribadian selalu dalam penyesuaian diri yang unik dengan lingkungannya dan berkembang bersama-sama dengan lingkungannya, serta menentukan jenis penyesuaian yang akan dilakukan anak, karena tiap anak mempunyai pengalaman belajar yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Dalam perkembangan kepribadian, konsep diri dan sifat-sifat seseorang merupakan hal atau komponen penting.“konsep diri merupakan konsep, persepsi, maupun gambaran seseorang mengenai dirinya sendiri, atau sebagai bayangan dari cermin diri. Konsep diri seseorang dipengaruhi dan ditentukan oleh peran dan hubungannya dengan orang lain terhadap dirinya” (Buchori 1982).

Menurut Suadianto (2009) menerangkan bahwa
Sifat mempunyai dua ciri yang menonjol, yaitu:
(1) Individualistis yang diperlihatkan dalam kuantitas ciri tertentu dan bukan kekhasan ciri bagi orang lain.
(2) Konsistensi yang berarti seseorang bersikap dengan cara yang hampir sama dalam situasi dan kondisi yang serupa, konsep diri merupakan inti kepribadian yang mempengaruhi berbagai sifat yang menjadi ciri khas kepribadian seseorang.

Menurut Kurnia (2007) menyatakan bahwa
Mengenai perkembangan pola kepribadian, ada 3 faktor yang menentukan perkembaangan kepribdian seseorang termasuk peserta didik, yaitu:
  1. Faktor bawaan, termasuk sifat-sifat yang diturunkan kepada anaknya, misalnya sifat sabar anak dikarenakan orang tuanya juga memiliki sifat sabar, demikian juga wawasan sosial anak dipengaruhi oleh tingkat kecerdasannya.
  2. Pengalaman awal dalam lingkungan keluarga ketika anak masih kecil. Pengalaman itu membentuk konsep diri primer yang sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian anak dalam mengadakan penyesuaian diri dan sosial pada perkembangan kepribadian periode selanjutnya.
  3. Pengalaman kehidupan selanjutnya dapat memperkuat konsep diri dan dasar kepribadian yang sudah ada, atau karena pengalaman yang sangat kuat sehingga mengubah konsep diri dan sifat-sifat yang sudah terbentuk pada diri seseorang.

Pada perkembangan kepribadian pesera didik, tidak ada kepribadian dan sifat-sifat yang benar-benar sama. Tiap anak adalah individu yang unik  dan mempunyai pengalaman belajar dalam penyesuaian diri dan sosial yang berbeda secara pribadi. Menurut Suadianto (2007) menjelaskan bahwa hal penting dalam perkembangan kepribadian adalah ketetapan dalam pola kepribadian atau persistensi. Artinya, terdapat kecenderungan ciri sifat kepribadian yang menetap dan relatif tidak berubah sehingga mewarnai timbul perilaku khusus terhadap diri seseorang. Persistensi dapat disebabkan oleh kondisi bawaan anak sejak lahir, pendidikan yang ditempuh anak, perilaku orang tua dan lingkungan kelompok teman sebaya, serta peran dan pilihan anak ketika berinteraksi dengan lingkungan sosial.

Pengaruh kepribadian terhadap peserta didik

Memahami karakter seseorang memang sangat sulit, namun sangat penting. Apalagi kita sebagai pendidik selalu bersama dengan peserta didik yang sangat banyak dan masing-masing mempunyai karakter-karakter tersendiri. Keadaan atau proses beajar dan mengajar tidak dapat berjalan dengan baik apabila kita tidak saling mengenal dengan peserta didik. Saling mengenal tidak harus dengan menghafal nama-nama dari peserta didik, tetapi pendidik harus mengenal kepribadian dari murid-muridnya.

Berdasarkan tipe-tipe kepribadian yang telah tercantum di atas bahwa setiap sifat yang baik pasti ada sifat yang jelek. Ada peserta didik yang diajak berbicaraselalu merespon, ada peserta didik yang periang, ada sifat atau pribadi yang tertutup, ada peserta didik yang kurang menghargai pendidikya dan mengaggap suatu hal biasa. Kita sebagai pedidik, kita harus mengendalikan ego dan menambah kesabaran saat berinteraksi dengan peserta didik untuk mengingatkan bahwa hal tersebut salah, benar, sopan dan lain-lain. Misalnya, anak yang suka bergurau dan menganggap guru adalah teman, saat pendidik melakukan kesalahan dan peserta didik mengejek dengan kata kurang sopan. Apabila kita langsung memarahi dan tidak bisa menahan emosi kita, maka kita akan ditakuti oleh dia dan bisa saja peserta didik tersebut dan yang lain langsung merasa tegang dan akhirnya pada saat peajaran, bukan suasana yng menyenangkan  yang didapat melainkan suasana tegang. Kita sebagai pendidik harus melihat kepribadian siswa tersebut apakah mudah tersingung atau tidak. Bila murid tersebut tidak muah tersinggung, kita bisa mengingatkan kesalahannya dengan cara lelucon. Namun bila dia mudah tersinggung maka kita bisa menegur saat di luar jam pelajaran. Bila suasana yang tercipta adalah tegang maka materi yang diberikan tidak diserap hingga maksimal dan akhirnya prestasi menurun.

TIDAK ADA ORANG YANG BODOH, TIDAK ADA ORANG YANG TERNODA

1 comments

Kebodohan dan bebas dari kesalahan menggambarkan dua pokok pemikiran yang menantang. Kebodohan berbicara tentang keterbatasan dan kelambanan kemampuan intelektual. Noda berbicara tentang jati diri dan karakter seseorang.

Kebodohan terjadi karena adanya gejalah-gejalah intelektual yang dianggap belum memenuhi standart tertentu akibat terlambatnya berpikir dan mengembangkan kognitif. Pengembangan kognitif atau cara berpikir seseorang sering dipengaruhi oleh tingkatan umur seseorang, menurut para ahli psikologi perkembangan seperti Jean Piaget. Menurut penelitiannya, perkembangan kognitif anak-anak jauh berbeda karena cara berpikir mereka penuh dengan intuitif dan mempunyai imajinasi yang tinggi. Setelah dewasa, anak-anak tadi berkembang menjadi pemikir-pemikir yang mengandalkan logika, kritis dan kreatif. Pemikiran rasional dan kritis ini menjadi tanda bahwa dia sudah bebas dari kebodohan dan ancaman penipuan orang.

Selama seseorang masih berpikir secara mistis, irasional dan tidak masuk akal, selama itu juga dia dianggap belum bisa mengendalikan diri dan belum mempunyai potensi diri yang tinggi. Dia dianggap bodoh dan ketinggalan jaman. Mengapa demikian? Karena cara berpikir orang yang irasional dan tanpa kritis itu sesungguhnya ada potensi untuk ditipu.

Tetapi apabila kita kaitkan dengan agama, ada banyak pemahaman kita yang bertentangan dengan logika, tidak rasional dan sering dianggap kebodohan bagi seseorang. Ada banyak karya spiritual yang terjadi diluar pantauan logika. Apakah itu kebodohan??

Kebodohan itu suatu phenomena yang relatif. Begitu juga dengan noda. Nilai-niai ini sulit dijadikan sebagai suatu nilai mutlak, yang dapat diterapkan dalam hidup seseorang. Noda berhubungan dengan masalah moral seseorang. Moralitas seseorang bisa beraneka. Contoh, jika seseorang mau menjadi pengikut agama tertentu hanya karena takut kepada orang tuanya. Jenis orang seperti ini adalah orang yang memiliki moral yang amat rendah. Sama halnya dengan orang yang menganut agama tertentu karena takut masuk naraka.

Orang yang bermoral tinggi adalah orang yang menolak korupsi karena dia sadar bahwa uang yang diambil itu milik orang lain. Bila perlu uang peribadinya boleh dapat ia sumbangkan untuk kebahagian orang lain. Dia siap berkorban untuk orang lain, biar nyawanya sekalipun. Itulah orang yang moralnya tinggi.

Orang yang moralnya tinggi itu akan bersediamengorbankan segalanya demi kesejahteraan orang lain. Tidak ingat diri sendiri. Orang pasti menganggap ia bodoh dan sangat tidak masuk akal karena melakukan demikian. Orang ini siap menderita demi kesejahteraan orang lain. Dia mengorbankan kekayaan peribadinya sendiri untuk orang lain.

Bagaimanakah sikap kita saat ini? Jika anda yang membaca tulisan itu belum merasa seperti orang yang mempunyai moral yang tinggi di atas, jangan merasa bersalah. Kita semua bertumbuh ke arah itu sampai kita menemukan diri kita yang sebenarnya. Anda akan menjadi bodoh demi kesejahteraan orang lain. Mari kita tumbuh bersama ke arah itu!