TIDAK ADA ORANG YANG BODOH, TIDAK ADA ORANG YANG TERNODA

1 comments

Kebodohan dan bebas dari kesalahan menggambarkan dua pokok pemikiran yang menantang. Kebodohan berbicara tentang keterbatasan dan kelambanan kemampuan intelektual. Noda berbicara tentang jati diri dan karakter seseorang.

Kebodohan terjadi karena adanya gejalah-gejalah intelektual yang dianggap belum memenuhi standart tertentu akibat terlambatnya berpikir dan mengembangkan kognitif. Pengembangan kognitif atau cara berpikir seseorang sering dipengaruhi oleh tingkatan umur seseorang, menurut para ahli psikologi perkembangan seperti Jean Piaget. Menurut penelitiannya, perkembangan kognitif anak-anak jauh berbeda karena cara berpikir mereka penuh dengan intuitif dan mempunyai imajinasi yang tinggi. Setelah dewasa, anak-anak tadi berkembang menjadi pemikir-pemikir yang mengandalkan logika, kritis dan kreatif. Pemikiran rasional dan kritis ini menjadi tanda bahwa dia sudah bebas dari kebodohan dan ancaman penipuan orang.

Selama seseorang masih berpikir secara mistis, irasional dan tidak masuk akal, selama itu juga dia dianggap belum bisa mengendalikan diri dan belum mempunyai potensi diri yang tinggi. Dia dianggap bodoh dan ketinggalan jaman. Mengapa demikian? Karena cara berpikir orang yang irasional dan tanpa kritis itu sesungguhnya ada potensi untuk ditipu.

Tetapi apabila kita kaitkan dengan agama, ada banyak pemahaman kita yang bertentangan dengan logika, tidak rasional dan sering dianggap kebodohan bagi seseorang. Ada banyak karya spiritual yang terjadi diluar pantauan logika. Apakah itu kebodohan??

Kebodohan itu suatu phenomena yang relatif. Begitu juga dengan noda. Nilai-niai ini sulit dijadikan sebagai suatu nilai mutlak, yang dapat diterapkan dalam hidup seseorang. Noda berhubungan dengan masalah moral seseorang. Moralitas seseorang bisa beraneka. Contoh, jika seseorang mau menjadi pengikut agama tertentu hanya karena takut kepada orang tuanya. Jenis orang seperti ini adalah orang yang memiliki moral yang amat rendah. Sama halnya dengan orang yang menganut agama tertentu karena takut masuk naraka.

Orang yang bermoral tinggi adalah orang yang menolak korupsi karena dia sadar bahwa uang yang diambil itu milik orang lain. Bila perlu uang peribadinya boleh dapat ia sumbangkan untuk kebahagian orang lain. Dia siap berkorban untuk orang lain, biar nyawanya sekalipun. Itulah orang yang moralnya tinggi.

Orang yang moralnya tinggi itu akan bersediamengorbankan segalanya demi kesejahteraan orang lain. Tidak ingat diri sendiri. Orang pasti menganggap ia bodoh dan sangat tidak masuk akal karena melakukan demikian. Orang ini siap menderita demi kesejahteraan orang lain. Dia mengorbankan kekayaan peribadinya sendiri untuk orang lain.

Bagaimanakah sikap kita saat ini? Jika anda yang membaca tulisan itu belum merasa seperti orang yang mempunyai moral yang tinggi di atas, jangan merasa bersalah. Kita semua bertumbuh ke arah itu sampai kita menemukan diri kita yang sebenarnya. Anda akan menjadi bodoh demi kesejahteraan orang lain. Mari kita tumbuh bersama ke arah itu!

Seni dalam Paduan Idealisme dan Komersialitas. Bagaimana?

0 comments

Anomali sebuah idealisme dalam seni. Ibarat tembok tebal yang membatasi kreativitas untuk penghambaan pada idealisme. Imajinasi liar terkekang dan ruang pikir terjajah, terintervensi. Seni selalu terasosiasi dengan kebebasan. Batasan selalu ada, selalu bisa dihindari, kita bisa berlari menjauh untuk itu. Idealisme merupakan batasan yang kita buat sendiri. Dangkal atau dalam sebuuah batasan, kita yang menyusur, kita yang mengatur.

Seni, sebuah kata yang selalu mengalami perluasan makna seiring zaman. Seolah ingin mengikuti, makna seni sudah lebih jauh berkembang dari sekedar melukis, memahat atau mencipta benda. Kompleksitas suatu masyarakat dari masa ke masa, pun berujung pada kompleksitas seni itu sendiri. Mencoret-coret dinding rumah hingga ‘skill’ bisa dianggap seni. Berbicara, mendengar hingga merasa tak kalah ingin dikategorikan sebuah seni. Tanpa batasan, tanpa kekangan, seni pun berkembang dari sebuah ekslusifitas menjadi teman sehari-hari dalam menjalani kehidupan. Seni tidak lagi di monopoli kaum tertentu. Ia pun sudah menjadi gaya dan tindakan setiap orang, berkembang dan berjalan searus kehidupan.

Namun, ironi kadangkala muncul ketika hal khusus menjadi umum. Seni pun semakin memasyarakat, semakin banyak yang merasa tindakan suatu individu bisa dikategorikan suatu seni. Seni menjadi pasaran, tidak mendalam, dan kehilangan roh nya. Estetika dari seni tidak lagi diindahkan, tidak pula dirasa menjadi hal yang sakral dalam suatu tindakan seni. Seni ‘umum’ sering berdalih bahwa “yang penting berkarya, toh kita juga ikut memajukan seni”. Karya seni yang dulu ekslusif dengan pengagungan tinggi pun terberai dalam karya-karya pasaran. Kenapa?

Menjamur dan kian memasyarakat adalah suatu kemajuan, namun juga miris. Komersialitas seni sering menjadi kambing hitam. Dahulu, sebuah seni hanya bisa dijangkau oleh para bangsawan. Koleksi seni-seni bernilai tinggi pun berada di kandang-kandang kastil para bangsawan, dan juga menjadi pemanis koleksi museum kenegaraan. Penghargaan pada karya seni tersebut pun berharga tinggi, menggiurkan mata dari para awam seni untuk mencoba dan mencipta suatu seni. Komersialitas tinggi suatu seni merangsang orang-orang untuk mereplikasikan dirinya menjadi seniman untuk motif komersial, bukan motif estetika absolut.

Jamur pun akan hidup sehat beranak-pinak saat udara lembab, mendukung untuk tumbuh. Pun demikian seni, perkembangan teknologi membuat seni semakin mudah. Untuk siapa saja, di mana saja dan cara-cara yang semakin praktis dan murah. Alat-alat yang tidak dimiliki zaman sebelumnya, kini dengan mudah dijangkau. Bahan material untuk membuat karya pun dengan mudah di dapat. Memang teknologi semakin mempermudah segala hal, seni pun menjadi imbas dari kemajuan tersebut.
 
Yang tak kalah pentingnya dalam perkembangan seni yang semakin besar dan memasyarakat adalah aktualisasi diri. Aktualisasi diri berkembang dari berbagai arah psikologis. Imitasi, mencontoh, ‘ingin seperti’, pengetahuan baru hingga pembuktian adalah hal-hal yang mendorang setiap orang untuk mengaktualisasikan dirinya. Seni adalah hal yang paling mudah dilakukan. Pelampiasan yang paling baik, ampuh dan bisa langsung dilihat orang lain.

Idealisme, komersialitas dan seni. Konsekuensi logis dari penggabungan dua dari 3 hal tersebut akan selalu memberi dampak. Ketika kita ingin seni selalu bermandikan idealisme, maka bisa jadi kebebasan kreativitas akan menjadi tumpul, terbatasi oleh idealisme itu sendiri. Pun berkurangnya karya seniman untuk masyarakat akan terjadi. Tak kalah buruknya pula jika kita ingin mengaduk komersialitas dan seni. Bagai lebah di kebun bunga. Seni akan semakin banyak diproduksi, namun komersialitas lah yang menjadi tujuan, estetika tak peduli.

4 Ciri Masyarakat Idaman

0 comments

Berikut ini adalah 4 ciri dari masyarakat yang kita idam-idamkan:
  1. Saling hormat
  2. Saling memakmurkan 
  3. Saling memanuhi harapan 
  4. Saling berlomba melakukan kebaikan  
 
Sikap saling hormat di sini adalah saling hormat bedasar ajaran Tuhan, yang mengutamakan kepribadian unggul (akhlak mulia) di atas segala-galanya. Ini adalah persyaratan pokok untuk menciptakan kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk (plural) dan bhineka (berbeda-beda), yang akan membuat mereka duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Sikap inilah yang akan menghapus diskriminasi kelas (pengkastaan), diskriminasi gender (jenis kelamin), dan bentuk-bentuk feodalisme secara keseluruhan. 
 
Sikap saling memakmurkan adalah dasar bagi pembentukan sistem ekonomi yang adil, yang akan membuat manusia melakukan aktifitas ekonomi (penyelenggaraan kebutuhan hidup) yang cenderung lebih memikirkan kebutuhan orang lain daripada diri sendiri, sehingga setiap anggota masyarakat menjadi produktif, cenderung memberi, dan selalu memastikan manfaat dari setiap pekerjaan serta tindakannya. 
 
Sikap saling memenuhi harapan adalah landasan bagi terbangunnya sebuah masyarakat yang para anggotanya fungsional di segala bidang dan sektor kehidupan. Tidak ada orang yang mau menganggur atau berpangku tangan sambil menonton kesibukan orang lain. Tidak ada orang yang baru bekerja setelah disuruh-suruh atau didorong-dorong. Semua berlomba ‘mengaktualisasikan’ diri sebagai manusia-manusia yang berguna. 
 
Sikap saling berlomba melakukan kebaikan adalah fondasi bagi tegaknya sebuah masyarakat yang bersih dari segala bentuk kesalahan yang disengaja, lekas mengoreksi kekeliruan, dan anti melakukan tindakan-tindakan kejahatan (krimininal). 
 
Demikianlah keadaan masyarakat yang pada hakikatnya merupakan idaman kita baik sebagai warga NKRI maupun sebagai warga dunia. Itulah pula yang menjadi latar belakang lahirnya semboyan bhineka tungal ika falsafah Pancasila, dan Undang-Undang Dasar 1945.

Bangun kemampuan Leadership Anak Dengan Outbound

0 comments

Saat weekend berlangsung anda dan keluarga tak punya kegiatan? Cobalah rencanakan kegiatan yang menarik untuk mengisi hari libur anda. Dengan outbond misalnya! Tak usah takut kotor, karena outbond sangatlah menyenangkan. Apalagi jika anda melakukan nya bersama anggota keluarga anda tercinta. Ini bisa menjadi waktu berkumpul keluarga yang menyenangkan setelah jadwal kerja yang padat setiap hari. Dan bukan hanya bisa mempererat dan saling mendekatkan anggota keluarga saja.
Dengan outbond kita juga bisa mendapatkan banyak manfaat loh! Permainan yang identik dengan permainan petualangan ini juga bagus dalam proses tumbuh dan berkembang nya buah hati anda.

Komunikasi yang efektif

Dalam seluruh permainan di arena outbond. Permainan nya banyak yang di lakukan secara berkelompok (team). Ini akan merangsang anak anda untuk bisa ikut berperan aktif secara tindakan. Maupun secara verbal dalam menyelesaikan tantangan dalam permainan. 

Rasa percaya diri

game - game ini juga bisa membangun rasa percaya diri setiap peserta. Rasa percaya diri sangatlah penting dalam kehidupan, telebih lagi untuk buah hati anda. Dan akan membantu perkembangannya dalam mengontrol emosi dan meningkatkan interaksi nya dengan orang lain. Sehingga bisa membentuk kecerdasan emosianal yang baik.

Problem solving
 
Selain bisa mencerdaskan dan membuat sang anak menjadi kreatif. Dengan outbond anak juga bisa terlatih memecahkan masalah misalnya dalam sebuah permainan teka teki ataupun permainan yang membutuhkan kekompakan tim. Ia dan rekan rekan kelompok nya akan berusaha mencari jalan keluar dan penyelesainnya bukan? 

Kepemimpinan (Leadership)

Ini yang terpenting, kepemimpinan! Merupakan gabungan dari sifat sifat yang di ajarkan dalam permainan permainan di outbond. Anak anda akan belajar bagaimana cara memimpin tim nya agar bisa menjadi tim yang terbaik. Bekerjasama dengan teman temannya, mengungkapkan gagasan yang ia miliki. Dengan begitu sang anak akan memiliki karakter yang khas. Sangat menarik bukan?

Ada banyak jenis permainan di outbond. Misalnya flying fox, dayung kayah, panjat dinding, meniti jembatan tali dan bambu, dan juga ada pamper pole! Berniat ikut outbond di akhir pekan?
   

10 Falsafah Hidup Orang Jawa

0 comments

falsafah Jawa memang seringkali dianggap petuah-petuah kuno buat sebagian besar generasi muda saat ini. Padahal, filosofi leluhur tersebut berlaku terus sepanjang hidup. Warisan budaya pemikiran orang Jawa ini bahkan mampu menambah wawasan kebijaksanaan.

Berikut 10 dari sekian banyak falsafah yang banyak dikenal sebagai pedoman hidup orang Jawa.
  1. Urip Iku Urup, Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik.
  2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara, Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.
  3. Sura Dira Jaya Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti  segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.
  4. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha, Berjuang tanpa perlu membawa massa. Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan,kekayaan atau keturunan. Kaya tanpa didasari kebendaan.
  5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan, Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri. Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu.
  6. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman, Jangan mudah terheran-heran. Jangan mudah menyesal. Jangan mudah terkejut-kejut. Jangan mudah ngambeg, jangan manja.
  7. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman, Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi.
  8. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka, Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah. Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.
  9. Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo, Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat.
  10. Aja Adigang, Adigung, Adiguna, Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti.

sumber: tuanmuda.us

tuanmuda.us

0 comments


Mungkin banyak orang yang gak tau tentang forum yang satu ini karena forum ini masih tergolong baru. Tuanmuda.us adalah suatu forum dunia maya yang berdiri sejak tahun 1 Agustus 2011. Ya... forum ini baru berumur beberapa bulan.

Dalam forum ini terdapat berbagai macam topik/artikel yang berisi ilmu pengetahuan, informasi dan hiburan dalam segala hal. Forum ini mempunyai slogan “Bebaskan Ekspresimu Disini !” yang bisa diartikan bahwa forum ini adalah forum yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi bagi semua membernya. Tentunya bebas yang bertanggungjawab loh......

Yang unik di forum ini adalah panggilan membernya yaitu Raden (untuk member laki2) dan Nona (untuk member perempuan). Indonesia banget kan??. Untuk sistem reputasinya, forum ini menggunakan sistem balok reputasi dimana Potion untuk reputasi baik (GRP) dan Poison untuk reputasi buruk (BRP).

Berikut saya kasih Preview dari tuanmuda.us :
[Image: HGTCO.png]

[Image: ztaRb.png]

[Image: wf32Z.png]


Jadi tunggu apa lagi, ayo gabung dengan para raden/nona TM'ers yang sudah duluan join dan mulai mencari teman-teman baru dari berbagai belahan dunia terutama Indonesia. Ayo... bebaskan ekspresimu di Tuanmuda forum..!!!

Realita Adalah Realita, Ia Selalu Jujur Apa Adanya

0 comments

Realita adalah realita. kenyataan tidak bisa direduksi dari satu sisi saja, entah itu sisi positif atau negatifnya. Orang yang hanya membicarakan realita sebagai wacana yang selalu positif adalah orang yang munafik, penjilat yang menutupi hitam-putih kenyataan. Tentu yang mereka lakukan adalah demi kepentingan. Realita tidak pernah bohong kepada manusia. Ia selalu jujur. Jujur kalau memang realita adalah ruang yang penuh dengan problem, mulai yang sederhana hingga yang paling kompleks yang susah dipecahkan. Kita tidak bisa hanya melihat realita sebagai hal-hal yang indah dan menyenangkan saja, yang seperti ini tak ubahnya dengan hanya impian. Impian yang mengafirmasi realita sekitar dengan hal-hal positif sesuai kehendak berpikir kita sebagai subjek. Juga sangat tolol orang-orang yang menganggap realita sebagai ruang kejam yang menakutkan yang didalamnya terdapat problem yang rumit dan tak terpecahkan.

Realita adalah panggung sandiwara kebaikan dan keburukan, bahkan melampaui semua itu.

Ada cinta dalam realita, ada benci juga. Ada kemarahan, ada kasih sayang. Panggung realita disediakan bagi manusia dengan berbagai kemungkinan alam pikirnya. Untuk orang tolol atau untuk orang cerdas. Memilih menjadi orang tolol atau orang cerdas adalah keputusan eksistensialis manusia. Tidak ada yang berhak menjustifikasi seseorang apakah dia tolol atau cerdas sebenarnya. Justigikasi itu adalah konstruksi sosial dari masyarakat yang terbiasa dengan kewajaran. Kewajaran tentang gaya hidup dan gaya berpikir. Realita menyediakan tempat bagi semua jenis orang dengan semua jenis gaya berpikir, tidak melulu untuk orang tolol ataupun orang cerdas. Semuanya disediakan tempat oleh realita.

Hanya saja, para pendobrak realita sering kali tidak muncul dari kalangan orang kebanyakan yang hidup dengan penuh kewajaran. Pendobrak kebenaran dalam realita senantiasa unik dan berpikir dengan cara yang tidak wajar, sebuah cara yang tidak dimiliki orang kebanyakan.

Realita tidak bisa ditutup-tutupi dengan kalimat-kalimat motifasi. Premis motifasi tidak menunjukkan kebenaran, ia hanya mengarahkan pada kehendak tertentu. menjadi kehendak kebaikan jika motifasi itu diarahkan untuk kebaikan, menjadi kehendak keburukan jika motifasi itu diarahkan untuk keburukan. Dunia sepenuhnya mengandung nilai kejujuran yang tidak bisa direduksi, namun juga tidak bisa dijelaskan apa adanya sebagai das ding an sich (meminjam istilah Kant). Dunia selalu dinilai oleh manusia dengan cara berpikir mereka menghadapi realita. Cara pandang manusia terhadap dunia tidak bisa murni 100% benar sesuai apa yang ia lihat dan dilihat orang lain. Manusia melihat dunia selalu sebagai konteks atau sebagai fragmen tertentu yang paling pas di hatinya, paling sesuai dengan yang ada dalam anggapan berpikirnya. Fragmen itu seperti kaca mata berwarna, akan hijau jika kacamatanya berwarna hijau, akan merah jika kacamata itu berwarna merah. Realita berwarna hijau jika manusia memahami dunianya dengan perspektif kacamata hijau. Demikianlah seterusnya.
Bukankah keseluruhan kenyataan memang terlalu rumit untuk dijelaskan? Tentu saja. Manusia itu terbatas pada kemampuannya memahami realita dengan kacamatanya. Kalau kita ingin menjadi manusia yang memahami kenyataan secara lebih ‘kaya’ dari orang kebanyakan (orang yang hanya menggunakan satu atau dua kacamata-perspektif), maka kita harus banyak mengoleksi kacamata dengan berbagai warna. Jujur pada dunia, berdamai dengan kehidupan. Kita hadapi kenyataan dengan sifat manusia yang sebenar-benarnya, coba pahami dunia dengan perspektif yang lebih luas, agar diri tidak terkungkung dalam sempitnya pemahaman yang diberikan satu macam kacamata warna.

Menjadi Orang Tua Bagi Manusia, Bukan Robot

0 comments

“Dilihat dari faktor kemauan untuk maju, saya mengelompokkan guru menjadi tiga jenis. Pertama, guru robot, yaitu guru yang bekerja persis seperti robot. Mereka hanya masuk kelas, mengajar, lalu pulang. Mereka hanya peduli pada beban materi yang harus disampaikan kepada siswa. Kedua, guru materialistis, yaitu guru yang selalu melakukan perhitungan mirip dengan aktivitas bisnis jual beli. Parahnya yang dijadikan patokan adalah hak yang mereka terima, barulah kewajiban dilaksanakan sesuai hak yang mereka terima. Ketiga, gurunya manusia, yaitu guru yang memiliki keikhlasan dalam belajar dan mengajar. Guru yang punya keyakinan bahwa target pekerjaannya adalah membuat para siswa berhasil memahami materi-materi yang diajarkan” (Munif Chatib dalam buku “Gurunya Manusia”, Kaifa, Jakarta, 2011, halaman 64).

Saya memang menyukai bukunya Munif Chatib, karena sangat inspiratif bagi saya. Dua tulisan saya sebelumnya, semua juga mengutip dan mangambil inspirasi dari buku bang Munif, untuk saya bawa ke dalam pembahasan tentang pendidikan di dalam keluarga. Hal ini karena saya sangat meyakini bahwa perbaikan bangsa dimulai dari pendidikan, dan pendidikan dimulai dari rumah dan sekolah.

Orang Tua Robot, Orang Tua Materialistis
Ketika Munif mengelompokkan guru menjadi tiga jenis, yaitu guru robot, guru materialis dan gurunya manusia, maka dalam kehidupan keluarga, orang tuapun bisa dikelompokkan serupa itu. Orang tua adalah guru dan pendidik pertama dan utama di dalam kehidupan rumah tangga. Maka ada tipe orang tua robot, orang tua materialistis, dan orang tuanya manusia.

Orang tua robot adalah ayah dan ibu yang bertindak seperti robot, tanpa perasaan. Bekerja mekanis : ayah bekerja mencari nafkah, ibu mengurus rumah tangga. Ayah pulang kerja, masuk rumah, membaca koran, nonton TV, makan, doa dan tidur. Ibu memasak, mencuci baju, membersihkan rumah, menyiapkan sarapan sebelum anak-anak berangkat sekolah, membaca tabloid, nonton sinetron, doa dan tidur.

Tidak ada kehangatan di dalam keluarga tersebut, yang ada adalah suasana formal dan sangat kaku. Tidak ada kelembutan dan membuncahnya cinta dan kasih sayang. Yang lebih tampak adalah suasana saling asing di antara suami, isteri, dan anak-anak. Mereka berinteraksi secara formal dan tidak tampak suasana keharmonisan sebuah keluarga, karena lebih dominan suasana kesibukan masing-masing anggota keluarga, seakan mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki ikatan kekeluargaan.

Ayah dan ibu tidak mengerti mengapa anaknya menangis. Ayah merasa sudah menunaikan kewajibannya, namun ternyata anak masih merajuk. Ibu merasa sudah menyiapkan keperluan sekolah anak, namun anak masih malas berangkat sekolah. Mereka tidak memahami bahasa perasaan, tidak mengerti bahasa hati, yang diketahui adalah bahasa kegiatan dan perbuatan praktis.

Orang tua materialis adalah ayah dan ibu yang selalu menjadikan materi sebagai tolok ukur segala sesuatu. Sejak kecil saat anak menangis, yang terpikir adalah “ia memerlukan makanan atau mainan apa?” Begitu anak menangis, pertanyaan ibu adalah, “Mau apa nak ? Jelly, atau Chiki ?” Pertanyaan ayah adalah, “Ayo kita beli mainan, kamu pengin mainan apa?” Mereka berpikir bahwa anak akan diam jika mendapat pemenuhan materi.

Ayah merasa sudah menjadi orang tua hanya karena memberikan keperluan material bagi anak-anak. Ia bekerja mencari nafkah, agar bisa memberikan kecukupan makan, pakaian dan papan bagi keluarga. Membayar uang sekolah anak-anak, membiayai kesenangan anak-anak, membelikan handphone, laptop, pulsa, blackberry, dan seterusnya. Membayar keperluan kesehatan, membiayai keperluan rekreasi, mencukupi sarana transportasi, seperti motor, mobil dan segala asesorisnya.

Ibu merasa sudah menjadi orang tua hanya karena mencukupi keperluan sekolah dan bermain anak-anak. Ibu sudah memenuhi belanja untuk anak-anak. Memasakkan berbagai makanan yang disenangi anak. Membelikan makanan dan minuman kesukaan anak-anak. Membelikan seragam sekolah anak, membelikan buku-buku pelajaran anak. Mengajak anak-anak untuk mengikuti berbagai kursus dan bimbingan belajar.

Orang Tuanya Manusia
Sedangkan orang tuanya manusia adalah ayah dan ibu yang terus menerus berusaha untuk mendidik anak dengan sepenuh hati. Selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak, selalu berusaha menyayangi anak dan mengarahkan mereka menuju kebaikan. Orang tua yang selalu belajar dan meningkatkan kapasitas diri agar menjadi ayah dan ibu yang unggul dan tangguh dalam mendidik dan membersamai proses tumbuh kembang anak-anak.

Ketika anak menangis, orang tua memahami bahwa yang diperlukan adalah perhatian dan kasih sayang. Ketika anak merajuk, orang tua memahami bahwa yang diperlukan adalah sentuhan hati dari ayah dan ibu, bukan sentuhan materi. Orang tuanya manusia memahami bahwa ada kewajiban yang tidak sekedar materi, lebih dari itu orang tua harus memberikan pemenuhan kebutuhan spiritual, kebutuhan intelektual, percontohan moral, dan dukungan amal.

Orang tuanya manusia merasakan dengan hati, menyapa penuh kelembutan, mendorong penuh motivasi, menyentuh dengan perasaan. Ayah dan ibu yang selalu berusaha memberikan ketaladanan dalam kehidupan, selalu berusaha mencetak generasi yang mengerti dan komitmen terhadap nilai-nilai. Ayah dan ibu yang mengerti bahwa mereka memiliki kewajiban mengarahkan segenap potensi anak-anak menuju kehidupan yang penuh berkah, kebahagiaan dan keberhasilan.

Karena anak-anak yang kita lahirkan adalah manusia dengan segala potensi yang utuh, maka kita tidak boleh menjadikan mereka sebagai robot, tidak boleh pula menggunakan pendekatan materialistis dalam berinteraksi dengan anak-anak. Harus melakukan pendekatan dari hati ke hati, dengan perasaan, dengan bahasa jiwa. Hanya orang tua yang sadar akan kelengkapan potensi anak-anak ini yang akan bisa menghantarkan mereka menuju gerbang keberhasilannya.

Konsekuensi logisnya adalah, orang tua seperti ini harus selalu rela belajar, rela meningkatkan kapasitas dan kapabilitas dirinya agar selalu bisa melakukan hal yang tepat dan memberikan hal terbaik bagi anak-anaknya. Mereka selalu belajar, mencari ilmu, pengetahuan dan ketrampilan yang bermanfaat bagi upaya mendidik anak-anak. Orang tua humanis seperti inilah yang akan bisa menjadikan anak-anak yang sukses dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Semoga kita bisa menjadi orang tuanya manusia, karena anak-anak kita adalah manusia dengan segala potensi yang utuh.

Hidup Itu Memilih

0 comments

Apa target kamu dalam menjalani kehidupan? menjadi orang pinterkah?, orang kayakah? orang baikkah? orang bodohkah?, orang miskinkah?, orang jahatkah?

Semua pasti akan memenuhi targetnya masing-masing sesuai dengan kemampuan masing- masing pula.
namun masalahnya, tidak ada orang yang disebut baik, pinter, dan kaya jika tidak ada orang yang disebut bodoh, miskin, jahat.

Nah, disitu target kita untuk memilih menjadi orang yang mana, namun bukan berarti orang yang disebut bodoh, miskin, dan jahat tidak bisa memilih.

Orang-orang tersebut harus berusaha dan belajar dan berperilaku lebih lagi agar bisa menjadi orang yang disebut sebaliknya.

Semua itu bisa terjadi hanya jika ada pilihan, sebagai contoh, jika ada orang yang mengajarkan ketidakbergunaan, berarti dia memilih untuk menjadi orang yang tidak baik dan seterusnya.

Tetapi jika kita sudah mempunyai kriteria berhasil tersebut bukan berarti kita bisa memanfaatkan orang yang mempunyai kriteria sebaliknya, tetapi kita malah harus bekerjasama, walaupun masing- masing mendapatkan hasilnya berbeda sesuai pilihannya

Jika semua orang memenuhi kriteria yang bagus semua, maka keseimbangan itu tidak akan terjadi
itulah yang dinamakan dinamika hidup dalam keseimbangan hidup.

Jalu apa yang akan terjadi, jika pilihan pad diri sendiri itu mengandung unsur yang negatif dan positif, itu dinamakan piihan yang tidak stabil.

Lalu jangan berpikiran bahwa pilihan negatif akan membawa kenikmatan, karena disitu akan ada peranan hukum dan kewenangan Tuhan YME, agar tidak terjadi kebar-baran hidup.

Pilih yang manakah anda?

Membaca Tidak Efektif Tanpa Menulis

1 comments

Saya jadi ingat potongan lagu anak-anak yang sering dinyanyikan dahulu :

“.. Berhitung, menulis, membaca. Tak lupa diulang di rumah. Ingin akupun demikian, seperti Ruri abangku.”

Saat ini anak saya yang berusia 5,5 tahun, duduk di tahun pertama sekolah dasar sedang mengalami masa awal belajar yang ‘beneran’ di sekolahnya. Dalam catatan guru sebelum liburan kemarin, para orangtua diharapkan membantu anak-anak untuk matang berhitung 1-20 dan mengenalkan konsep dasar tambah dan kurang. Selain itu kami juga diminta untuk menekankan latihan baca-tulis agar anak bisa mencapai harapan lancar membaca sebelum naik kelas.

Anak saya sangat berminat membaca. Di bulan pertama saya sering latih dia membaca kata-kata pendek yang dibekali oleh guru kelas. Pendekatan membaca dengan peka pada bunyi cukup membantu anak saya untuk menggabungkan huruf. Ada yang bilang ini pendekatan fonetik. Bahwa setiap huruf punya bunyinya. Apa yang terdengar, itulah yang tertulis. Namun rupanya saya melakukan kesalahan fatal ketika tidak membarengi kegiatan membaca ini dengan aktivitas menulis yang juga intens.

Karena sesungguhnya ada beberapa kata yang tidak terlalu simpel peluruhan bunyinya. Dengan sering membaca dibarengi menulis, anak terbiasa mengenal bentuk kata juga. Kegiatan mengenal bunyi dan bentuk kata sebenarnya sudah bisa dilakukan sejak bayi. Setelah anak mahir menulis, bentuk dan bunyi itu menjadi konkrit dari pengalaman dia menorehkan sendiri ‘gambar’nya.

Dari sekedar menuliskan kata per kata, mengajak anak menulis kalimat juga sangat menolongnya mengerti makna kata. Karena walaupun ia lancar membaca, bisa jadi itu hanya manifestasi kelancarannya menggabungkan bunyi, mengingat bentuk katanya atau gabungan keduanya.

Kegiatan kita, para dewasa yang gemar membaca dan menulis, yang kemudian menjadi tontonan lazim bagi anak-anak juga memotivasi mereka untuk ikut membaca dan menulis. Anak saya sangat penasaran untuk bisa membaca karena saya dan suami menghabiskan waktu di perjalanan dengan membaca. Setiap malam ‘mantengin’ komputer, membaca banyak teks, tak tik di keyboard sambil sesekali mencatat di kertas. Mungkin baginya kegiatan itu terlihat begitu mengasyikkan sampai kami kadang-kadang mengacuhkannya! Jadi ia ingin sekali merasakan rasa asyiknya.

Mengenai menulis, dari hasil pengamatan anak saya yang ada 3 orang ini, si kecil yang belum dua tahun mulai belajar membuat oret-oretan. Si tiga tahun sedang memperlancar mewarnai dengan ’sempurna’, tidak keluar garis, membuat lingkaran utuh, membuat bentuk-bentuk, sambil belajar menulis namanya. Si besar sejak 4 tahun sudah percaya diri menulis namanya dengan ejaan yang benar. Jika saat itu saya mulai ajak agar terbiasa menuliskan kata lain (tanpa mencontoh) mungkin saat ini ia lebih lancar membaca dan menulisnya.

Tapi konon sebagai orangtua kita juga tidak boleh memaksakan dan harus menyesuaikan dengan kesiapan anak tersebut. Tanggung jawab kita adalah memberi lingkungan yang kondusif baginya untuk memaksimalkan setiap tahapan pertumbuhan. Sekarang saya baru sadar tentang pentingnya menulis. Baru sebentar saja saya belikan alat tulis yang lucu dengan buku serbaguna (boleh digambar, boleh ditulis, boleh digunting), sekarang si besar dan tengah mulai sering menulis. Bahkan si besar menenteng buku dan pensilnya kemanapun pergi dan menuliskan kata-kata yang dia lihat. Terasa signifikan kemampuannya memaknai kata sekarang.

Saya jadi berfikir, kalau efek membaca diimbangi dengan menulis pada anak sekecil itu saja bisa begitu besar, apalagi bagi orang dewasa. Jadi marilah kita lebih sering menulis. Ketika menulis, otak kita ‘olahraga’, kitapun jadi lebih mengerti apa yang kita fikirkan sebelumnya. Kata dosen saya dulu, saat menulis jangan langsung diedit dan rendah diri bahwa tulisan itu tidak perlu atau tidak bagus. Yang penting keluarkan dulu apa yang terfikir. Menulis jurnal harian saja (untuk konsumsi pribadi) juga sudah cukup sebagai langkah awal.

Yuk sering-sering menulis!

oleh finaisme