Lampu Merah dan Kesempurnaan

0 comments

Ketika kita akan pergi ke suatu tempat, entah dengan mobil, sepeda motor, atau kendaraan apapun, apakah kita menunggu sampai semua lampu hijau?

Tentu tidak.

Apakah kita juga menunggu sampai semua jalan sepi?

Tentu tidak.

Kita tentu akan terus melaju, berhenti ketika ada lampu merah, dan berjalan lagi ketika lampu hijau. Jika ada kendaraan yang menghalangi jalan, tentu kita akan mencari jalan untuk bisa melaluinya.

Ini sama seperti halnya jika ingin mencapai tujuan dalam hidup. Tidak perlu menunggu sampai semuanya sempurna.

Saat Kegagalan Terus Menerpa

0 comments


Banyak yang mengatakan bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Masalahnya bagaimana jika Anda mendapatkan kegagalan terus-menerus? Sudah mencoba berkali-kali namun tetap tidak berhasil juga. Apakah ada yang salah atau sudah ditakdirkan menjadi orang gagal?

Jika Anda menganggap bahwa Anda sudah ditakdirkan menjadi orang yang gagal, artinya Anda sok tahu. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, hanya Allah Yang Maha Mengetahui, kenapa kita mendahului-Nya?

Jika Anda mengatakan ada yang salah… maka jawaban Anda benar. Memang ada yang salah.

Apa kesalahan itu dan siapa yang salah?

Kegagalan Datang Karena Anda Kurang Mencoba

Anda gagal, jika Anda berhenti. Anda kurang mencoba. Anda bisa mengatakan sudah mencoba 100 kali, namun bisa jadi perlu 1.000 kali untuk berhasil. Mungkin Anda sudah berusaha selama 1 tahun, bisa jadi Anda harus menunggu 2 tahun agar bisa berhasil.

Thomas Alpha Edison melakukan 10.000 kali percobaan dalam menemukan bola lampu. Jika dia mengeluh dan berhenti mencoba setelah dia mencoba 100 kali, mungkin orang lain yang akan menjadi penemu. Seorang ahli photografi, harus memotret puluhan bahkan ratusan kali untuk menemukan hasil jepretan yang terbaik. Semuanya perlu percobaan, berulang kali, sampai Anda berhasil.

Banyak orang yang membangun bisnis, bertahun-tahun mengalami kerugian, dan dia mendapatkan untung pada tahun ke-3 atau lebih. Banyak kisah seperti ini, jika saya menuliskannya akan menjadi sebuah buku tersendiri. Intinya ialah, sering kali untuk meraih keberhasilan, memerlukan waktu yang panjang.

Jika Anda berhenti, artinya Anda memilih gagal. Atau kegagalan datang jika Anda berhenti mencoba.

Kegagalan Untuk Mereka Yang Tidak Sabar

Karena keberhasilan adalah perjalanan panjang, yang memerlukan percobaan berkali-kali, bahkan ribuan kali. Yang perlu perjalanan waktu yang panjang, maka untuk sukses kita perlu kesabaran. Sukses hanya untuk mereka yang teguh pada jalan yang benar. Mereka terus melakukan hal yang benar, tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti.

Hal ini disebabkan karena masih banyak yang berharap bahwa sukses itu instan. Saat keberhasilan tidak juga diraih maka mereka berhenti dan memutuskan untuk gagal. Memutuskan berhenti sama dengan memutuskan gagal.

Bisa saja sukses itu ada 3 langkah lagi dari tempat Anda berdiri saat ini. Saat ada keinginan untuk berhenti, ingatkanlah diri Anda: “mungkin tinggal 3 langkah lagi”.

Kegagalan Untuk Mereka Yang Kurang Ilmu

Anda tidak akan pernah berhasil, meski Anda sudah mencoba berkali-kali, jika caranya salah. Jika Anda tidak mengambil hikmah dari kegagalan masa lalu. Jika Anda tidak mengambil pelajaran dari keberhasilan orang lain. Jika Anda tidak mau belajar dari berbagai sumber. Yang Anda ketahui hanya cara yang salah. Jika Anda tidak mengubahnya, Anda tidak akan pernah berhasil.

Thomas Alpha Edison, melakukan 10.000 kali percobaan, dengan cara yang berbeda. Bukan dengan cara yang sama. Perbedaan itu bisa dari apa yang Anda lakukan atau cara Anda melakukannya. Dan, Anda akan mengetahui cara-cara lain jika Anda cukup ilmu. Belajarlah!

Perluas Horizon Anda

Kegagalan juga sering terjadi pada orang yang sempit horizonnya atau wawasannya. Dia yang membatasi diri, baik membatasi cara mencapai tujuan atau membatasi tujuannya.

Sebagai contoh, ada yang mengatakan dia telah gagal karena sudah tiga kali mencoba masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN). Tidak ada lagi kesempatan, katanya.

Iya, dia memang gagal masuk PTN, tetapi hidup dia belum gagal. Masih banyak peluang berhasil meski tanpa gelas dari PTN. Banyak orang yang berhasil, meski dia lulusan PTS, bahkan SMA, SMP, SD, bahkan tidak sekolah sekali pun. Jadi, jangan persempit keberhasilan hanya dengan mendefinisikannya dengan masuk PTN.

Tetaplah mencoba, bersabar, belajar, dan perluas wawasan Anda serta jangan lupa BERDOA juga. Mudah-mudahan kegagalan tidak terus menerpa Anda.

Cara Untuk Mengembangkan Rasa dan Sifat Sabar

0 comments

1. Jangan terlalu memikirkan mengenai masalah, sakit kepala dan kesakitan serta mengharapkan simpati dan perhatian daripada orang lain.

2. Terimalah hakikat bahawa lebih banyak perhatian yang anda berikan kepada perkara-perkara ini lebih teruklah keadaan anda nanti. Semua perkara akan menjadi kelam kabut dan hati anda terluka dan berasa tidak sabar kerana orang lain tidak ambil peduli.

3. Jangan fikir anda harus menunjuk kepada orang lain bahawa anda berada dalam keadaan yang betul dan dapat memenangi hati mereka dalam setiap perkara yang anda lakukan.

4. Terimalah hakikat betapa sukarnya untuk menyenangkan hati setiap orang pada setiap masa. Pastikan bahawa anda bersikap adil dan wajar dan biarkan masa menentukannya.

5. Jangan fikir anda mengetahui benar apa yang terbaik untuk orang lain.

6. Terimalah hakikat sementara anda boleh terus cuba memujuk, tetapi akan menimbulkan kesusahan untuk mengharapkan mereka melakukan apa yang anda hendakkan. Ini tentunya mencetuskan ketidaksabaran ke atas kedua-dua pihak.

7. Jangan memikirkan bahawa kerana terdapat mereka yang tidak bersetuju dengan anda, mereka bersifat tidak wajar terhadap anda.

8. Terimalah hakikat bahawa manusia berhak kepada pandangan yang dikemukakan. Anda mengharapkan mereka membenarkan anda mendapat hak yang sama itu.

9. Jangan fikirkan mengenai semua perkara buruk yang akan berlaku ke atas diri anda.

10. Terimalah keadaan bahawa setiap orang mempunyai masa rehatnya. Cuba lihat di luar daripada diri anda.

11. Bersimpati terhadap orang lain akan membantu anda bersifat lebih sabar.

12. Jangan fikirkan bahawa sifat yang tidak menentu itu (moodiness) dalam diri seseorang adalah terlalu penting.

13. Terimalah hakikat kadangkala diri kita yang baik inipun boleh mengalami sifat berubah-ubah atau tidak menentu itu. Hadapilah dengan tenang dan cubalah kawal sifat berubah-rubah diri anda itu.

14. Jangan fikir bahawa cita-clta dan apa yang anda kehendaki adalah terlalu penting.

15. Terimalah hakikat bahawa wujudnya kesulitan jika terlalu mengharapkan sesuatu perkara dalam hidup, terhadap diri anda dan orang lain. Jika anda terlalu berharap, kedukaan dan kekecewaan akan menjadikan anda sedih dan berkelakuan hilang sabar.

Renungan si Gagal

0 comments

Aku takut orang lain akan menghina diriku, jika aku menjadi diri sendiri.
Aku takut orang lain akan mentertawakanku, jika aku berani tampil beda.
Aku takut orang lain akan menganggapku gila, jika aku berani mencoba hal-hal baru.
Aku takut orang lain akan mengucilkanku, jika aku tidak sesuai dengan pandangan mereka.
Aku takut orang lain akan mengejekku, jika aku gunakan caraku sendiri.
Aku takut orang lain akan menganggapku orang aneh, jika aku melakukan sesuatu yang berbeda dari cara orang kebanyakan.

Aku takut..
Aku takut…
Aku takut….
Aku takut dunia akan melemparkanku ke jurang kesepian jika aku berusaha untuk menjadi apa adanya diriku…..
Aku sangat takut…..

Oleh karena itu lebih baik aku menjadi seperti orang kebanyakan yang hanya mengharapkan upah standar dan hidup tidak neko-neko.
Tidak perlu ngambil resiko untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Tidak perlu repot-repot punya impian karena impian itu hanya untuk orang yang tidak waras.
Tidak perlu susah menjalani kerasnya perjuangan mewujudkan mimpi.
Tidak perlu kelaparan makan sehari sekali demi ngumpulin modal.
Tidak perlu ngrasain pahitnya dihina karena punya impian tinggi yang orang lain tidak akan mengerti. 
Tidak perlu kurang tidur lembur tiap hari demi cita-cita yang tinggi.
Tidak perlu ini, Tidak perlu itu….

Simple aja lah, nikmati kehidupan standar, penghasilan standar, nasib standar…..
Siapa tau besok pasang togel bisa meledak dapat milyaran.
Siapa tau………

Lebih baik berdiri dipanggung bermain musik, menghibur banyak orang,………..

Tips Mengelola Emosi

0 comments

1. Ganti fokus! Apa yang kita fokuskan, itu yang berkembang. Saat kita fokus pada mengontrol ‘emosi’, tak disadari kita justru meletakan fokus pada ‘emosi’. Ini seperti pola motivasi NLP yang disebut ‘toward’ dan ‘away’. Ada yang fokus ingin ‘bahagia’, ada yang fokus tidak ingin ’susah’. Ada yang fokus ingin ‘tenang’, ada yang tidak ingin ‘meledakan emosi’. Perhatikan bahwa linguistik akan memberikan asosiasi yang mempengaruhi proses berperilaku kita secara tidak sadar.
Contoh lain, ’saya emosi’ dengan ’saya tidak bisa tenang’, memancing 2 respon dan asosiasi yang berbeda. Dalam sebuah program dengan sebuah perusahaan swasta, mereka memberikan judul ‘Anger Management’, yang saya usulkan disesuaikan judulnya menjadi ‘Happiness Enhancement’. Ganti fokus, ganti pikiran, ganti perasaan, ganti perilaku, ganti hasil! Jadi daripada fokus pada bagaimana ‘mengontrol emosi’, kita bisa memikirkan bagaimana ‘menikmati ketenangan’, atau bagaimana ‘meningkatkan kebahagiaan’. Fokus ke salah satu kutub, membuat kita mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang mendukung fokus kita tersebut dan akan menyebabkan berkurangnya intensitas kutub lain.

2. Berdamai dengan Emosi! Emosi bukan hal yang buruk, bahkan walau yang dimaksudkan adalah marah, kesal, frustrasi, kecewa, dan lain-lain. Di beberapa konteks kita sangat memerlukan emosi. Marah, misalnya, adalah hal yang baik di saat yang bermanfaat. Hanya saja, kadang emosi terfasilitasi di waktu, tempat, dan konteks yang kurang bermanfaat untuk kita. Untuk itu, dibanding berusaha membendungnya, kita bisa berdamai dengan emosi. Untuk ini, bisa dilakukan apa yang di NLP disebut dengan ‘Negotiating Parts’ atau bernegosiasi dengan bagian-bagian diri kita yang kita anggap muncul tidak pada konteks yang bermanfaat. Cari waktu rileks, dan saat tenang dan rileks, bicaralah dengan diri sendiri dan berdialog secara internal dengan berbagai bagian yang memunculkan emosi. Cari tahu ‘NIAT’ di balik kemunculan emosi tersebut, karena NIAT-nya pasti baik untuk kita, walau kadang ia muncul di saat yang kurang tepat. Tidak usah mengutuk kehadiran emosi. Sadari saja ia sebagai bagian diri kita, yang punya NIAT baik. Dan negosiasikan kemunculannya dalam situasi yang lebih bermanfaat untuk kita. Bawah sadar kita selalu mau bekerja sama saat kita menghormatinya dan secara spesifik tahu apa yang kita inginkan.

3. Kreasikan mood dengan sengaja! Mood memang akan muncul dengan sendirinya secara acak, kalau kita tidak dengan sengaja mengelolanya. Kita punya program dan struktur bagaimana memunculkan mood, walau kadang kita tidak sadari. Prinsipnya juga sederhana. Anda supply berbagai hal yang bisa membangkitkan mood tertentu di kepala Anda, makan mood akan timbul. Anda isikan berbagai hal yang melawan mood tersebut, maka mood-nya juga akan mundur. Anda memikirkan berbagai hal lain, selain hal-hal yang mendukung kenikmatan melakukan sesuatu, maka Anda pun merasa seolah tidak ada ‘mood’. Apalagi ada bayangan betapa menjengkelkannya atau menyusahkannya, atau betapa sulitnya melakukan hal itu. ‘Moody’ berarti membiarkan bawah sadar yang memilihkan mood untuk kita. Kadang sesuai konteksnya, kadang tidak. Kita sebut ‘angin-anginan’, karena tergantung angin bertiup kemana. Yang paling menarik adalah yang mood-nya tergantung situasi. Ini menggantungkan sekali respon pikiran dan perilaku pada stimulus dari luar. Ini seperti menyerahkan remote control pikiran kepada orang lain atau situasi. Kuncinya adalah menyadari bagaimana mood kita yang bermanfaat muncul, dan menjalankan strategi yang sama untuk memunculkannya di saat kita butuhkan. Ingin punya mood bermesraan dengan pasangan di malam hari? Pikirkan dari pagi betapa indahnya pertemuan pertama, bayangkan kenangan terindah Anda berdua, isi pikiran dengan semua bayangan bagaimana Anda jatuh cinta dan apa-apa saja yang Anda senangi dari pasangan. Setiap ada waktu, isi pikiran Anda dengan hal itu. Bila perlu, putar lagu kenangan Anda berdua. Dengan ’sengaja’ memancing mood seperti ini, Anda tidak akan kesulitan untuk mempunyai mood di malamnya. Ini contoh sebuah proses ’sengaja’ menciptakan mood. Sekali lagi, kalau kita tidak dengan ’sengaja’ menciptakan mood, maka kita tidak perlu frustrasi mood yang mana yang muncul. Toh kita sendiri tidak mau memilih, bukan?

4. Temukan atau ciptakan Anchor atau berbagai pemicu perasaan senang atau antusias untuk konteks tertentu. Ada yang sadar setiap kali mendengarkan lagu tertentu jadi bersemangat, ada yang dengan membayangkan orang yang dikasihi, ada yang dengan mengucapkan afirmasi atau kata-kata tertentu untuk jadi semangat, ada yang dengan melakukan ritual 1-2 menit untuk menenangkan diri, dll. Di NLP ada sebuah tool bernama ‘Godiva Pattern’, dinamakan dari sebuah merek coklat yang diklaim terenak di dunia. Metoda ini sangat sederhana, yakni membayangkan coklat ini dan mengasosiasikannya dengan pakerjaan yang tidak kita sukai tapi harus lakukan.

5. Belajarlah ‘men-DISTORSI- kan’ dan me-REFRAME’ situasi. Pada umumnya kita pandai sekali dalam hal distorsi, tapi lebih sering tidak bermanfaat. Sebuah kejadian baik datang, kita distorsikan dengan “Ah! Kebetulan!”. Sesuatu yang belum tahu pasti kesulitannya, sudah kita bayangkan, “Pasti akan sulit sekali!”. Kalau kita belajar mengarahkan pikiran kita sesuai manfaat, otomatis emosi kita terkelola dengan baik. Misalnya saat kita belum berhasil melakukan sesuatu, kita bisa distorsikan “Ah! Kebetulan saja, saya lebih hebat dari ini!” atau “Kali berikut pasti lebih baik!”. Kita tidak pernah tahu apakah kali berikut memang lebih baik atau tidak, tapi mendistorsikan ke arah yang positif, membuat kita lebih bersemangat dan antusias dalam melakukan yang berikutnya.

6. Terapkan ‘prinsip’ berpikir yang sehat untuk setiap interaksi dengan orang lain. Salah satu favorit saya adalah bahwa “Tidak setiap orang dapat memfasilitasi NIAT baiknya, dan cukup sering malah tampak tidak baik karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan, atau karena belief yang kurang bermanfaat”. Dengan ‘prinsip’ berpikir seperti ini, kalau saya menghadapi sesuatu yang tidak mengenakan dari orang lain, yang saya pertanyakan adalah perilaku orangnya, bukan NIAT-nya. Karena saya percaya bahwa NIAT orang tersebut tidak dapat terfasilitasi dengan baik olehnya, karena keterbatasannya tersebut. Dan kalau saya ladeni dengan cara atau perilaku yang sama, berarti saya menunjukkan keterbatasan yang sama. Saya menemukan bahwa mengkonfrontasi atau meng-intersepsi perilaku seseorang jauh lebih efektif dan produktif dibanding membicarakan NIAT orang tersebut, yang toh tidak pernah kita ketahui secara pasti. Prinsip lain, misalnya “Tidak ada kegagalan, hanya masukan”. Jadi setiap menghadapi apa yang disebut orang sebagai kegagalan, saya hanya berkata dalam hati “Masukan apa yang bisa saya ketahui dari situasi ini?”. Secepat itu pula saya kembalikan ketenangan dan antusiasme melangkah maju. Anda pun bisa menemukan berbagai ‘prinsip’ berpikir yang bermanfaat. Intinya bukan seberapa banyak prinsip yang Anda punyai, tapi seberapa konsisten Anda dalam mengaplikasikannya. Di NLP, prinsip ini dikenal sebagai ‘PRESUPPOSITION’.

7. Isi pikiran dengan sengaja! Anda tidak isi pikiran Anda, maka bawah sadar setiap saat bisa memunculkan apapun secara acak, yang belum tentu Anda inginkan. Kalau Anda sedang dilanda tantangan emosional yang tinggi, maka besar kemungkinan hal ini yang akan sering dimunculkan secara otomatis. Kita hanya bisa fokus pada satu hal, karena itu yakinilah kita memilih yang membuat kita bersemangat dan happy! Pikirkan dengan sengaja hal-hal yang membahagiakan dan menyenangkan. Bahkan saat Anda mempunyai waktu melamun atau menghayal.

Mengelola Emosi

1 comments

Salah mengelola emosi bisa membuat Anda terpuruk, tetapi bila Anda bisa mengelola emosi dengan benar maka sukses pasti dapat diraih dan kualitas hidup Anda pun menjadi lebih baik.

Emosi adalah kekuatan terpendam yang sangat berpengaruh dalam kehidupan setiap orang. Emosi termasuk salah satu fungsi dari pikiran bawah sadar yang memiliki kekuatan sembilan kali lipat. Emosi bisa mempengaruhi pikiran, sebaliknya pikiran juga bisa mempengaruhi emosi. Yang pasti, baik pikiran maupun emosi membentuk sikap. Selanjutnya sikap itu berpotensi menjadi tindakan. Setiap tindakan Anda membuahkan hasil.
 
Kabar baik untuk Anda. Jika sekarang Anda tidak puas atas hasil-hasil yang dicapai dalam hidup Anda, maka perbaikilah cara mengelola emosi Anda. Anda boleh percaya atau tidak percaya. Fakta membuktikan banyak orang gagal dalam hidup ini akibat tidak sanggup mengelola emosi dengan baik. Kegagalan dalam bisnis, karir, belajar, keluarga, dan bergaul dengan orang lain, lebih banyak disebabkan oleh emosi yang tidak mendukung.

Kekuatan Emosi

Masih ingat kejadian musibah nasional bencana tsunami di Aceh tahun 2004. Bencana gelombang tsunami menimbulkan emosi sedih bagi banyak orang yang menjadi korban dan mereka yang menyaksikannya walaupun hanya melalui media massa. Emosi sedih ini bersifat negatif, tetapi apabila dikelola dengan benar bisa menjadi kekuatan bagi banyak orang untuk bertindak positif. Sebut saja misalnya memberikan bantuan dan pertolongan kepada para korban. Bantuan dana milyaran Rupiah dapat dikumpulkan dari berbagai kalangan masyarakat karena emosi sedih berhasil diubah menjadi energi positif.

Emosi marah yang kemudian berubah menjadi dendam bisa menimbulkan pembunuhan. Emosi marah ini bila dikelola dengan benar bisa menjadi kekuatan dalam bentuk semangat kerja, belajar, atau berprestasi. Kemarahan Anda terhadap kemiskinan justru menjadi kekuatan besar Anda untuk mengubah kemiskinan menjadi hidup penuh dengan kemakmuran.

Emosi takut misalnya takut gagal bisa membuat orang tidak mau mencoba atau berbuat sesuatu. Emosi takut gagal yang negatif ini bila dikelola dengan benar, justru membuat seseorang rajin belajar, banyak bertanya, maupun berlatih agar mampu melakukan sesuatu hingga berhasil. Masih ingat karya besar seperti tembok cina, tahukah Anda bahwa tembok cina itu adalah buah dari rasa takut diserang musuh.

Anda perlu tahu, emosi negatif sangat berbahaya bagi tubuh, pikiran, dan kehidupan kita. Dalam psikologi terdapat istilah psikosomatis, yaitu penyakit pada tubuh manusia yang disebabkan oleh emosi negatif. Misalnya stres menyebabkan gangguan pencernaan, khawatir bisa menyebabkan sakit punggung, marah menyebabkan hepatitis, dan sebagainya. Sebaliknya, dengan emosi yang positif kita bisa menjaga kesehatan agar tetap prima dan kebal terhadap penyakit. Bahkan, dengan emosi yang positif suatu penyakit bisa disembuhkan atau setidaknya mempercepat penyembuhan suatu penyakit.

Mengubah Emosi Negatif Menjadi Positif

Dalam Neuro Linguitik Programming (NLP) terdapat teknik yang dapat mengubah emosi negatif menjadi energi positif seketika dengan menggunakan state of management. Dua cara untuk mengelola keadaan pikiran maupun emosi Anda.

Pertama, mengubah fokus pikiran

Ketika emosi Anda sedang negatif seperti marah, kecewa, sedih, takut, malas, dan seterusnya, maka Anda perlu menelusuri pikiran Anda lebih dulu. Ide-ide dalam pikiran apa yang menyebabkan timbul emosi negatif itu. Ingat pikiran, emosi, dan tubuh kita merupakan satu kesatuan.

Emosi negatif yang sedang Anda alami sesungguhnya timbul akibat ide-ide tertentu baik pengalaman masa lalu, kejadian, atau sesuatu yang ’negatif’. Misalnya Anda sekarang sedang sedih, maka kesedihan Anda mungkin karena pikiran sedang melayang pada suatu kejadian tertentu mungkin orang tercinta meninggal dunia, tagihan kredit sudah jatuh tempo bingung mau bayarnya, ingat anak tidak dapat masuk ke sekolah favorit, atau lainnya.

Agar Anda tidak sedih terus menerus, ubahlah fokus pikiran Anda. Gantilah fokus pikiran ’negatif’ tadi ke fokus pada ide-ide positif. Ingatlah kejadian, pengalaman, atau seseorang yang Anda cintai. Misalnya, fokuskan pikiran Anda pada kejadian ketika Anda bercinta dengan pasangan, masa-masa indah saat pacaran, mendapat hadiah ulang tahun, anak-anak yang lucu, mendapat komisi pertama, dan lain lain.

Singkatnya, ketika emosi Anda sedang negatif maka ubahlah fokus pikiran Anda pada hal-hal yang positif, maka seketika emosi Anda pun menjadi positif.

Kedua, fisiologis

Cara kedua untuk mengelola emosi negatif menjadi emosi positif dapat Anda lakukan dengan mengubah fisiologis seperti cara bernafas, cara berdiri, dan ekspresi wajah.

Emosi negatif mempengaruhi sistim pernafasan. Pada waktu Anda marah, nafas Anda menjadi pendek, lambat, dan tidak teratur. Dengan mengatur cara bernafas menjadi panjang, dalam, dan teratur, maka emosi Anda menjadi lebih tenang.

Postur tubuh Anda, seperti cara berdiri atau duduk Anda bisa mempengaruhi emosi Anda. Kalau posisi duduk menggambarkan pundak tertarik ke bawah dan kepala menggantung ke bawah juga, nafas pendek dan lambat, mata ke bawah dan tidak fokus, mulut tertutup rapat dan tertarik ke bawah, maka postur seperti ini mudah mengundang pikiran dan emosi yang negatif seperti bosan, lelah, dan sebagainya.

Jika Anda ingin tampil percaya diri, postur tubuh Anda harus mendukung. Caranya? Misalnya pundak ditarik ke belakang, mata terbuka lebar dan fokus ke depan, nafas cepat dan dalam, dan mulut tertarik keatas. Dengan postur yang tepat seperti ini Anda bisa mengubah emosi negatif menjadi emosi positif.

Anda pasti bisa membedakan ekpresi orang yang menang dan kalah, orang yang sukses dan yang gagal. Jauhi pola fisiologis, pola pikir, sikap, dan tindakan orang gagal agar Anda tidak menjadi seperti mereka. Sebaliknya, arahkan pada fisiologisk, pola pikir, sikap, dan tindakan orang-orang yang menang dan sukses, maka Anda pun lambat laun bisa menang dan sukses.

Emosi Anda adalah hidup Anda. Anda ingin sukses, mulailah dengan mengelola emosi. Emosi positif yang mendukung diperlukan untuk meraih sukses dan kualitas hidup yang lebih baik.

"BEJANA TANAH LIAT"

0 comments

William seorang penasehat kerajaan yg disegani karena kebijaksanaannya, raja sangat memperhatikan perkataan & nasehatnya. wajah buruk & tubuhnya yg bongkok membuat putri raja iri & bertanya sambil mengejek : " Jika engkau bijaksana, beritahu aku mengapa Tuhan menyimpan kebijaksanaan-NYA dalam diri org yg buruk rupa & bongkok ".

William balik bertanya : " Apakah ayahmu mempunyai anggur ?" , " Semua org tahu ayahku mempunyai anggur terbaik, pertanyaan bodoh macam apa itu" , putri raja menyahut sinis.
" Dimana ia meletakkannya ?" William bertanya lagi, "Yg pasti didalam bejana tanah liat" . mendengar itu William tertawa. " Seorang raja yg kaya akan emas dan perak seperti ayahmu menggunakan bejana tanah liat ?" mendengar itu putri raja berlalu meninggalkannya dengan rasa malu, ia segera memerintahkan pelayan memindahkan semua anggur yg ada di istana dari dalam bejana tanah liat ke dalam bejana dari emas & perak.

Suatu hari raja mengadakan perjamuan bagi para tamu kerajaan, alangkah kagetnya ia karena anggur yg diminumnya rasanya sangat asam, lalu dengan geram ia memanggil semua pelayan istana yg kemudian menceritakan bahwa anggur yg disuguhkan tadi berasal dari bejana emas dan perak atas instruksi putri raja sendiri, lalu raja menegur keras perilaku putrinya itu.
putri raja berkata kepada William, " Mengapa engkau menipu aku, aku memindahkan semua anggur ke bejana emas tapi hasilnya semua anggur jadi terasa asam. "Dengan ringan William menjawab : " Sekarang engkau tahu mengapa Tuhan lebih suka menempatkan kebijaksanaan dalam wadah yg sederhana, kebijaksanaan itu sama seperti anggur, ia hanya cocok dalam bejana dari tanah liat."

Ketika Tuhan mencari sarana yg ingin dipakai-NYA, ia tidak harus mencari yg terbuat dari emas, tetapi dari tanah liat yg sederhana.
Siapapun kamu saudaraku!!!


" Karena itu rendahkanlah dirimu dibawah tangan Tuhan yg kuat, supaya kamu ditinggikan-NYA pada waktunya."


Anak Muda. Apa Saja Tantangannya?

0 comments

Bagaimana menurut Anda? Apakah tantangan yang dihadapi kaum muda generasi sekarang lebih sulit dibanding tantangan pada zaman dahulu? Jika Anda menjawab tidak, Anda mungkin merasa bahwa kaum remaja sekarang adalah kelompok yang paling beruntung dibanding kelompok orang muda mana pun dalam sejarah.

Di banyak negeri, obat-obat mengatasi berbagai penyakit yang dulunya merampas kesehatan dan kehidupan anak muda. Berkat teknologi, muncullah alat-alat dan mainan elektronik yang hanya bisa dibayangkan oleh generasi-generasi sebelumnya. Dan, perkembangan ekonomi telah mengentaskan jutaan keluarga dari kemiskinan. Memang, banyak sekali orang tua yang bekerja keras supaya anak-anak mereka dapat menikmati kondisi hidup serta kesempatan pendidikan yang mereka sendiri dulu tidak nikmati

Semakin Terasing

Di film, TV, dan majalah, kaum muda digambarkan selalu dikelilingi sekelompok teman yang bersahabat sejak masa sekolah sampai dewasa. Bagi sebagian besar remaja kenyataannya tidak seperti itu.

Peneliti Barbara Schneider dan David Stevenson, yang menganalisis wawancara dengan ribuan anak muda di Amerika Serikat, mendapati bahwa ”relatif sedikit siswa yang secara konsisten memiliki sahabat karib yang sama atau sekelompok kecil sahabat seiring dengan berlalunya waktu”. Banyak anak muda ”tidak mempunyai hubungan dekat dengan orang lain dan tidak mempunyai banyak sahabat yang nyaman diajak bicara tentang berbagai masalah atau diajak berbagi ide”, kata Schneider dan Stevenson.

Kalaupun punya sahabat, para remaja tampaknya tidak banyak waktu untuk digunakan bersama. Sebuah penelitian besar-besaran di Amerika Serikat mendapati bahwa kebanyakan remaja menggunakan kira-kira 10 persen dari waktu mereka untuk bertemu langsung dengan teman-teman, namun hingga 20 persen dari waktu mereka digunakan seorang diri—lebih banyak dibanding waktu bersama keluarga atau teman. Mereka makan sendirian, bepergian sendirian, mencari hiburan sendirian.

Tren mengasingkan diri ini bertambah parah seiring dengan maraknya peralatan elektronik. Misalnya, pada tahun 2006, majalah Time melaporkan bahwa anak-anak muda di Amerika antara usia 8 dan 18 tahun menggunakan, rata-rata, enam setengah jam sehari dengan mata terpaku pada TV, telinga disumbat earphone, atau tangan memegang joystick video-game atau papan ketik komputer.*

Tentu saja, generasi ini bukan yang pertama menghabiskan waktu berjam-jam untuk menikmati musik atau bermain game. Namun, banyaknya jumlah waktu yang sekarang digunakan bersama peralatan elektronik ketimbang untuk berinteraksi dengan keluarga bisa merusak. Peneliti Schneider dan Stevenson mengatakan, ”Anak muda melaporkan bahwa mereka memiliki harga diri yang lebih rendah, lebih tidak bahagia, lebih sedikit menikmati apa yang sedang mereka lakukan, dan merasa kurang aktif sewaktu berada sendirian.”
 
Ditekan untuk Berhubungan Seks 
 
Kaum remaja dan bahkan praremaja mendapat tekanan berat untuk mencoba-coba seks. Nathan, seorang pemuda yang tinggal di Australia, mengatakan, ”Kebanyakan anak yang aku kenal di sekolah mulai berhubungan seks pada usia antara 12 dan 15 tahun.” Vinbay, seorang wanita muda yang tinggal di Meksiko, mengatakan bahwa seks bebas sangat umum di kalangan kaum muda di sekolahnya. ”Mereka yang tidak berhubungan seks dianggap aneh,” katanya. ”Seks bebas begitu umum di kalangan temanku sampai-sampai tidak cukup sekadar menolak satu kali,” kata Ana, gadis berusia 15 tahun yang tinggal di Brasil. ”Kita harus berulang kali menolak ajakan.” 
 
Para peneliti di Inggris menyurvei seribu anak muda yang usianya berkisar antara 12 dan 19 tahun dan yang berasal dari berbagai latar belakang. Mereka mendapati bahwa hampir 50 persen dari kaum muda sering terlibat salah satu bentuk kegiatan seksual. Lebih dari 20 persen di antaranya masih berusia 12 tahun! Dr. Dylan Griffiths, yang mengawasi riset itu, mengatakan, ”Pembatasan yang secara turun-temurun diberlakukan oleh keluarga, Gereja, dan lembaga-lembaga lain sudah lenyap, sehingga kaum mudalah yang menjadi korban.” 
 
Apakah anak muda yang mencoba-coba seks benar-benar menjadi ”korban”? Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada tahun 2003, peneliti Rector, Noyes, dan Johnson melihat hubungan langsung antara kegiatan seksual remaja, depresi, dan meningkatnya kemungkinan upaya bunuh diri. Mereka menganalisis wawancara dengan 6.500 remaja dan mendapati bahwa ”anak perempuan yang berhubungan seks cenderung mengalami depresi tiga kali lipatnya anak perempuan yang tidak berhubungan seks”. Dan, anak lelaki ”yang berhubungan seks cenderung mengalami depresi dua kali lipatnya anak lelaki yang tidak berhubungan seks”.
 
Menurut sebuah penelitian, anak perempuan yang mencoba-coba seks cenderung mengalami depresi tiga kali lipatnya anak perempuan yang tidak melakukannya 
 
Keluarga yang Berantakan
 
Anak muda di Amerika Serikat telah mengalami pesatnya perubahan-perubahan struktur keluarga dan bergesernya nilai-nilai. ”Dalam beberapa dekade belakangan ini, ada beberapa perubahan demografi besar yang berpengaruh langsung atas kehidupan para remaja,” kata buku The Ambitious Generation—America’s Teenagers, Motivated but Directionless. ”Keluarga Amerika rata-rata semakin kecil, maka para remaja kemungkinan besar mempunyai lebih sedikit kakak adik. Dengan terus meningkatnya angka perceraian, semakin banyak anak menghabiskan sebagian masa kanak-kanak mereka bersama orang tua tunggal. Dan, ada lebih banyak ibu dari anak-anak di bawah usia delapan belas tahun yang harus bekerja, sehingga lebih kecil kemungkinannya ada orang dewasa di rumah."
 
Tidak soal anak-anak tinggal bersama satu atau bersama dua orang tua, banyak anak tidak merasa dekat dengan orang tua justru pada saat-saat mereka paling membutuhkannya. Sebuah penelitian yang memantau 7.000 remaja selama jangka waktu bertahun-tahun mendapati bahwa kebanyakan remaja menganggap orang tua mereka pengasih dan berpengertian. Meskipun demikian, ”hanya sepertiganya mengatakan bahwa mereka menerima perhatian khusus serta bantuan sewaktu mereka memiliki problem”. Penelitian itu juga mendapati bahwa ”bagi kebanyakan remaja, saat mereka menghadapi problem, orang tua justru tidak turun tangan dan menawarkan bantuan”. 
 
Di Jepang, ikatan keluarga yang dulunya kuat kini dirongrong hasrat akan kesuksesan materi. Yuko Kawanishi, profesor sosiologi, mengatakan, ”Kebanyakan orang tua dari para remaja dewasa ini berasal dari generasi pascaperang dunia kedua, dan bertumbuh dewasa sambil dicekoki seperangkat nilai baru yang menandaskan kesuksesan ekonomi dan keuntungan materi.” Nilai-nilai apa yang diteruskan para orang tua demikian kepada anak-anak mereka? ”Banyak orang tua dewasa ini hanya peduli dengan kesuksesan akademis anak-anak mereka,” kata Kawanishi. ”Asalkan anak-anak mereka belajar,” lanjutnya, ”semua hal lain di rumah menjadi nomor dua, atau bahkan tidak penting.” 
 
Apa dampak penekanan yang tidak seimbang atas kesuksesan materi dan pencapaian akademis demikian atas kaum muda? Di Jepang, media sering berbicara tentang kireru—istilah yang menggambarkan bagaimana anak muda secara mendadak lepas kendali sewaktu ditekan untuk tampil prima. ”Apabila anak-anak bertindak gila,” kata Kawanishi, ”hal itu mungkin karena mereka tidak merasa bahwa keluarga mereka mempunyai pengaruh yang mengekang atas perilaku mereka.”
Perilaku Merusak Diri
 
Menurut sebuah laporan pemerintah tahun 2006, penggunaan kokain di kalangan anak-anak usia 11 hingga 15 tahun di Inggris berlipat ganda dalam tempo satu tahun. Sekitar 65.000 anak muda mengatakan bahwa mereka telah mencoba memakai kokain. Di Belanda, lebih dari 20 persen kaum muda berusia antara 16 dan 24 tahun dilaporkan memiliki ketergantungan alkohol hingga taraf tertentu atau mengidap penyakit yang berhubungan dengan alkohol.

Banyak anak muda menyatakan tekanan batin mereka dengan cara yang lebih langsung. Mereka mengiris, menggigit, atau membakar tubuh mereka. ”Diperkirakan bahwa tiga juta orang Amerika punya kebiasaan mencederai diri, dan satu di antara setiap 200 remaja punya kebiasaan mencederai diri yang kronis,” kata periset Len Austin dan Julie Kortum.


[Catatan Kaki]
* Anak-anak muda yang menyendiri di kamar mereka begitu umum di Jepang sehingga mereka dijuluki hikikomori. Menurut perkiraan beberapa orang, ada antara 500.000 dan 1.000.000 hikikomori di Jepang.

Fakta Anak Pemalu dan Penyebabnya

0 comments

Anak ini senang sekali menyendiri dan melakukan sesuatu di dalam kamarnya,dan bahkan anak ini sangat cengeng sekali. Perasaan malu adalah perasaan gelisah yang dialami seseorang terhadap pandangan orang lain atas dirinya. Ada yang mengartikannya sebagai sesuatu yang “aneh”, “hati-hati”, “curiga” dan sebagainya.

Pada umumnya sejak lahir manusia telah memiliki sedikit perasaan malu, namun bila perasaan itu telah berubah menjadi semacam rasa takut yang berlebihan, maka hal itu akan menjadi suatu fobia, yaitu takut mengalami tekanan dari orang lain atau takut menghadapi masyarakat. Anak yang pemalu selalu menghindar dari keramaian dan tidak dapat secara aktif bergaul dengan temannya yang lain.

Guru tidak mudah mengetahui apakah muridnya seorang pemalu, sebab pada umumnya mereka tidak suka berbuat kegaduhan atau masalah. Sifat pemalu dapat menjadi masalah yang cukup serius sebab akan menghambat kehidupan anak, misalnya dalam pergaulan, pertumbuhan harga diri, belajar, dan penyesuaian diri. Umumnya ciri anak pemalu ialah terlalu sensitif, ragu-ragu, terisolir, murung, dan juga sulit bergaul. Jadi mereka perlu diberi bantuan.

PENYEBAB MASALAH

1. Unsur Keturunan
Hal ini merupakan faktor yang tidak langsung dan belum pasti. Sejak lahir anak tersebut terlihat agak sensitif dan kemungkinan hal itu terjadi karena pembawaan saat ibu yang ketika sedang mengandung mengalami tekanan jiwa maupun fisik. Namun ini juga belum dapat menjadi suatu bukti yang kuat apakah kelak anak yang sensitif itu akan menjadi seorang pemalu.

2. Masa Kanak-kanak Kurang Gembira
Ada sebagian anak yang mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan pada masa kanak-kanaknya. Misalnya orangtua sering berpindah- pindah, orangtua bercerai, orangtua meninggal, dipaksa pindah sekolah atau dihina oleh teman dan sebagainya. Semua pengalaman itu mengakibatkan terganggunya hubungan sosial mereka dengan lingkungan, suka menghindar atau mundur, dan tidak berani bergaul dengan orang yang tidak dikenal.

3. Kurang Bermasyarakat
Sifat pemalu akan terjadi bila anak hidup dengan latar belakang di mana ia diabaikan oleh orangtuanya, atau dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mengasingkan diri, terlalu dikekang sehingga mereka tidak dapat mengalami hubungan sosial yang normal dengan masyarakat.

4. Perasaan Rendah Diri
Mungkin perasaan malu itu timbul karena anak bertubuh pendek, bersikap kaku atau punya kebiasaan yang jelek, lalu berusaha untuk menutupinya dengan cara menyendiri atau menghindari pergaulan dengan orang lain. Karena kurang rasa percaya diri dan beranggapan dirinya tidak sebanding dengan orang lain, ia tidak suka memperlihatkan diri di keramaian.

5. Pandangan Orang Lain
Banyak anak yang menjadi pemalu karena pandangan orang lain yang telah merasuk ke dalam dirinya sejak kecil. Mungkin orang dewasa sering mengatakan bahwa ia pemalu, bahkan guru dan teman-teman juga berpendapat sama, sehingga akhirnya ia benar-benar menjadi seorang pemalu.

Berbagai Karakter Manusia dari Cara Ngupilnya

0 comments

Orang yang taat beragama
Berdoa dulu sebelum ngupil.
Orang yang tidak berpendidikan
Menggunakan jari orang lain untuk ngupil.
Orang yang suka ganti suasana
Selalu menggunakan jari yang berbeda tiap kali ngupil
Orang yang menganggap waktu adalah uang.
Kalo ngupil, 2 lobang sekaligus (Sekali mendayung, 2 pulau terlampaui)
Orang yang perfeksionis
Kalo mau ngupil, ia mencuci tangannya sampai bersih. Setelah ngupil, tangannya dicuci lagi, dan hidungnya dikompres dengan alkohol untuk mencegah terjadinya infeksi karena saat ngupil, bisa saja jari tangan melukai hidung.
Orang yang berlibido tinggi
Saat ngupil, jarinya di masukkan dan dikeluarkan dan dimasukkan dan dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan dimasukkan dan dikeluarkan sampai keluar lendir.
Orang yang tidak berpendidikan tapi punya sopan santun
Menggunakan jari orang lain untuk ngupil, dan mengucapkan terima kasih setelah selesai.
Orang yang inovatif
Menggunakan jari kaki untuk ngupil
Orang berjiwa samurai
Saat ngupil, jari dimasukkan ke hidung, ditarik ke atas, diturunkan kebawah, tarik ke kiri kemudian tarik ke kanan.
Orang yang suka petualangan
Selalu mencoba untuk meraih celah yang tak pernah diraih tiap kali ngupil
Orang yang mempunyai time-management yang tinggi.
Ada jadwal tuk ngupil per minggu, dan selang waktu untuk ngupil tiap kali ngupil.
Orang yang bagaikan punguk merindukan bulan Mencoba untuk melompat lompat, dan mengharapkan upilnya akan turun dengan sendirinya.
Orang yang punya kecenderungan "Psychopath"
Hanya akan berhenti ngupil setelah hidungnya berdarah.
Orang yang nggak tahan digelitik
Sambil ngupil, sambil tertawa.
Orang yang mengikuti perkembangan teknologi
Ngupil dengan memakai antenna handphone.
Orang yang nggak mau menghabiskan waktu untuk melakukan hal sia sia
Membuka lebar hidungnya dan menyuruh orang lain untuk mengintip apakah ada upil di dalam, karena nggak mau sia sia masukin jari ke hidung tapi ternyata nggak ada upil.
Orang yang berjiwa oriental
Menggunakan sumpit untuk ngupil.
Orang yang pilih kasih
Hanya ngupil lobang hidung sebelah kiri, sedangkan yang kanan dibiarkan begitu saja.
Orang yang adil, arif dan bijaksana
Kalo upil dari lobang hidung sebelah kiri lebih banyak dibanding upil dari hidung sebelah kanan, maka dia akan masukkan sedikit upil dari lobang hidung sebelah kiri kedalam lobang hidung sebelah kanan, baru mulai ngupil lagi.
Orang yang plin plan, alias baru makan buah simalakama
Ngupil salah, nggak ngupil salah, ngupil salah, nggak ngupil salah, ya udah... ngupil aja deh!
Orang yang latah
Saat kuku tangan tanpa sengaja melukai hidung, maka dia akan berteriak "EH MAMA KU UPIL EH UPIL KU MAMA"
Orang yang pelupa
Saat jari tangan sudah di dalam hidung, sesaat dia lupa apa yang ingin dia lakukan dengan memasukkan jari ke hidung.
Orang yang ceroboh
Orang yang setelah selesai ngupil lobang hidung sebelah kiri, kemudian lupa untuk ngupil lobang hidung sebelah kanan.
Orang yang punya kecenderungan "Copy Cat"
Setelah ngupil, dia akan berkata; "Ngupil? Siapa takut..."